Dalam 6 Bulan, Persentase Anak Stunting di Manggarai Turun 3,6 Persen

Menurut Sekda Fansi, penurunan ini terjadi karena berbagai upaya intervensi yang telah pemerintah daerah lakukan melalui kegiatan konvergensi yang melibatkan semua komponen masyarakat baik intervensi gizi specifik yang lakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai.

Senada dengan Sekda, Kepala Dinas Kesehatan Manggarai, drg. Bertolomeus Hermopan, menambahkan sudah melakukan kegiatan konvergensi seperti, pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil yang Kekurangan Energi Kronis (Bumil KEK) sebanyak 570 bumil KEK (100%) dari Januari s/d Juli 2022, promosi inisiasi menyusui mandiri (IMD) untuk bayi baru lahir (BBL) yang mana dari 3.080 BBL pada Januari s/d Juli 2022, 2.769 (90,5%) yang IMD.

Selain itu, Promosi pemberi Asi eksklusif bagi bayi usia kuang dari 6 bulan, dari 2.069 bayi 1.917 (92,7%) di antaranya ASI eksklusif pemberian Tablet Tambah Darah (TTD).

Di samping itu ada intervensi gizi sensitive oleh perangkat daerah yang terkait pemberian makanan tambahan melalui dana desa, pembentukan Kader Pembangunan Masyarakat (KPM) dari DPMPD, peningkatan ekonomi masyarakat melalui bantuan ternak, perbaikan sarana sanitasi bantuan dan berbagai kegiatan lainnya.

“Artinya, penurunan ini sendiri tidak terlepas dari upaya pemerintah daerah dalam pencegahan dan penurunan stunting pada Tahun 2022. Banyak upaya yang telah dilakukan pemerintah daerah melalui Pemerintah Kabupaten, pemerintah Kecamatan, desa dan kelurahan,” jelas Hermopan.

Selain itu, Hermopan mengakui bahwa penurunan ini juga dampak dari keterlibatan NGO, Lembaga Keagamaan, TNI/POLRI, BUMD, dan Lembaga Pendidikan. Konvergensi tersebut dapat terlihat dari giat pemerintah melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui program dana desa, STBM GESI, Pembentukan Tim PELUDES atau tim Pembina Kelurahan dan desa untuk stunting, di mana setiap OPD membina beberapa desa dan kelurahan untuk penanganan stunting.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel