Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Kapusmendik), Rahmawati, mengatakan capaian tersebut menjadi indikator meningkatnya kesadaran sekolah, orang tua dan murid terhadap pentingnya asesmen untuk perbaikan mutu pendidikan.
Dalam pelaksanaanya, TKA menggunakan sistem penskoran klasik dengan skala nilai 0–100. Sebelum hasil diumumkan seluruh paket soal dan butir soal terlebih dahulu melalui proses verifikasi dan validasi statistik untuk memastikan keadilan bagi seluruh murid.


Selain hasil numerik, hasil TKA juga dilengkapi kategori capaian dan deskripsi kemampuan murid. Pendekatan ini dihadirkan agar TKA tidak berhenti pada angka semata, tetapi menjadi alat refleksi pembelajaran bagi murid, guru dan orang tua.

Wensislaus Sedan, Kadis PPO Kabupaten Manggarai dikonfirmasi soal capaian SD yang berbeda jauh dengan capaian SMP menjelaskan itu sebagai satu kendala teknis.
Menurutnya, penyebaran SD ini sebagian berada pada yang jaringan internetnya kuat, ada yang lemah bahkan ada yang berada pada titik blank spot atau tanpa jaringan.
Kondisi ini, jelas Wensislaus sangat berpengaruh terhadap hasil TKA siswa SD, karena kendala yang dialami sekolah saat pelaksanaan TKA sebetulnya pada kendala teknis ini.
Kalau saja keberadaan SD ini sama dengan keberadaan SMP kami meyakini hasilnya pasti kurang lebih sama. Tetapi karena sebagian berada pada blank spot yang hanya dibantu dengan Starlink tentu menjadi hambatan.
Lalu, keberadaan Starlink ini juga bergantung pada listrik, kalau listriknya mati maka Starlink juga ikutan mati. Meski sebelumnya kita sudah berkordinasi dengan PLN tapi jangkauan PLN juga belum sepenuhnya menjangkau semua SD di Manggarai.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












