Ia kemudian menjelaskan, bahwa manakala kebijakan menaikan tiket masuk TNK itu lakukan dengan pendekatan budaya lonto leok akan meminimalisir berbagai kekewatiran atau penolakan pelbagai pihak. Tertuma, penolakan dari pelaku pariwisata di Labuan Bajo, dan Flores secara umum.
Dengan demikian, konsekuensi logisnya, sektor pariwisata idealnya akan menciptakan Kesejahteraan umum, penghargaan martabat manusia. Dan, keutuhan ciptaan (ekologi) tetaplah menjadi kriteria utama dalam perjuangan moral dan sosial yang benar dan tepat.” Tegas RD Alfons.
Pentingnya Pariwisata Holistik
Menyikapi pelbagai persoalan di atas, Gereja Keuskupan Ruteng tidak henti-hentinya memperjuangkan pariwisata holistik yang mencakupi semua dimensi kehidupan manusia dan kesejahteraan umum.
“Secara khusus, kami mengusung tema pariwisata holistik dalam program pastoral Keuskupan Ruteng tahun 2022 ini dengan motto: “Berpartisipasi, Berbudaya dan Berkelanjutan”.
Berpartisipasi, jelas RD Alfons Segar, berarti pariwisata yang melibatkan dan mensejahterakan masyarakat lokal. Berbudaya berarti pariwisata yang berakar dan bertumbuh dalam keunikan dan kekayaan kultur dan spiritualitas setempat. Berkelanjutan berarti pariwisata yang merawat dan melestarikan alam ciptaan.
Melalui paroki, lembaga gerejawi, biara-biara maupun awam katolik, khususnya para pelaku wisata, Gereja Keuskupan Ruteng telah dan akan terus menerus terlibat untuk mengembangkan pariwisata holistik dari Wae Mokel sampai Selat Sape, Manggarai Raya.
Selain mengelola situs dan program pariwisata rohani, Gereja Katolik berpartisipasi dalam menggerakkan ekonomi kreatif pariwisata umat, menggalakkan pariwisata budaya serta mendorong pariwisata alam.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







