Tidak hanya itu, pengembangan PAUD menurutnya, tidak cukup hanya berfokus pada pendidikan semata, tetapi harus mengadopsi pendekatan Holistik Integratif (HI) yang mencakup aspek kesehatan, gizi, pengasuhan, hingga perlindungan anak.
Dengan pendekatan ini, anak-anak usia dini diharapkan dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, baik secara fisik maupun mental, dalam lingkungan yang mendukung.
“Peran Bunda PAUD tidak hanya seremonial, tetapi harus mampu menjadi motor penggerak dan fasilitator di wilayah masing-masing untuk memastikan setiap anak usia dini mendapatkan haknya akan layanan pendidikan yang layak,” ujarnya.
Dalam forum tersebut juga, sejumlah isu strategis menjadi fokus pembahasan, antara lain peningkatan kompetensi tenaga pendidik PAUD, pemenuhan sarana dan prasarana yang memadai, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga PAUD, dan masyarakat.
Selain itu, optimalisasi peran Gugus Tugas PAUD Holistik Integratif (HI) di tingkat kecamatan dan desa turut menjadi perhatian utama.
Meldyanti berharap rakor ini dapat menyatukan persepsi dan memperkuat komitmen lintas sektor untuk mendorong program prioritas pemerintah daerah di bidang pendidikan anak usia dini. Ia menekankan bahwa tindak lanjut nyata di lapangan menjadi kunci keberhasilan peningkatan mutu layanan PAUD di seluruh wilayah.
Mengakhiri kegiatan, peserta mengikuti sesi diskusi interaktif dan menyusun rencana aksi yang akan diimplementasikan oleh Bunda PAUD di tingkat kecamatan dan desa/kelurahan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






