Berilah dengan Sukacita

Tentang ‘sikap memberi itu’, kepada orang-orang Korintus, Rasul Paulus punya tegasan terukur. Antara diri sendiri dan barang dalam ‘aksi pelepasan itu’ mesti dimuliakan dan termeterai dalam hati yang rela, tak dengan sedih, dan tiada keterpaksaan.

Renungkanlah perjalanan awal komunitas beriman. Seturut kisah Para Rasul, hati yang memberi, hati yang berbagi, hati yang rela lepas menyerahkan adalah ungkapan hati polos penuh sukacita. Tanpa terganjal ini dan itu. “Kepunyaan bersama dan aktus meletakkan barang milik di atas kaki Rasul-Rasul” adalah proklamasi kemerdekaan batin dari penjajahan ketamakan, dari keterlekatan dan dari kegelisahan diri yang egosentrik.

Untuk masa kini, mungkinkah “Lidia, Dorkas atau pasutri Akwila dan Priskila” adalah kisah-kisah jemaat perdana sebatas kisah masa lalu yang mengagumkan belaka? Tidak kah ini semua tetap menjadi inspirasi hidup untuk dihayati dan dialami?

Dunia tak pernah kekurangan apalagi kehilangan orang-orang yang berhati dermawan. Itulah orang-orang yang ada di titik tertinggi kesadaran bahwa memberi menurut kerelaan hati adalah karakter iman, marwah kepelayanan, serta satu panggilan nurani. Kaum seperti itu selalu sanggup untuk mengatakan ‘ini sudah cukup bagiku! Apa yang selebihnya adalah hak sesama.’

Sungguh mulialah orang yang berhati dermawan. Itulah mereka yang berhati elok untuk tak dijajah dan terbelit oleh kepelitan tanpa otak dan hati. Orang seperti itu akan selalu enteng, ceriah dan penuh kasih untuk menatap penuh empati keadaan sesama yang lagi menjerit pilu oleh ketakpastian nasib.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel