Belajar dari Shanghai: Ketika Pertanian Menjadi Ekosistem Kehidupan dan Harapan Baru bagi Manggarai

  • budaya gotong royong,
  • hubungan dekat dengan tanah dan alam,
  • kekayaan pangan lokal,
  • lanskap yang indah,
  • serta kehidupan sosial dan spiritual yang kuat.

Karena itu, yang perlu ditingkatkan bukan hanya produksi pertanian, tetapi pembangunan ekosistem yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan.

Ke depan, Manggarai perlu:

  • memperluas lahan pertanian organik secara kolektif,
  • membangun pasar komunitas yang lebih stabil,
  • memperkuat loyalitas antara petani dan pedagang,
  • mengembangkan model CSA atau membership pangan lokal,
  • membangun rumah belajar dan wisata edukasi pertanian,
  • memperkuat koperasi petani,
  • melibatkan lebih banyak orang muda,
  • serta mengintegrasikan pertanian dengan konservasi lingkungan, pendidikan, dan spiritualitas ekologis.

Pengalaman di Shanghai menunjukkan bahwa pertanian akan bertahan ketika petani tidak berjalan sendiri. Pertanian membutuhkan dukungan komunitas, keberpihakan kebijakan, kepercayaan pasar, dan kesadaran bersama bahwa pangan, lingkungan, dan kehidupan manusia saling terhubung.

“Di Shanghai saya belajar bahwa kemajuan pertanian ternyata dibangun bukan hanya oleh teknologi, tetapi juga oleh budaya disiplin, kesadaran kolektif, penghargaan terhadap lingkungan, dan komitmen menjaga hubungan jangka panjang,” tutur Agustinus.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa desa dan pertanian seharusnya tidak lagi dipandang sebagai simbol keterbelakangan. Di tengah krisis pangan dan perubahan iklim global, pertanian justru dapat menjadi jalan menuju masa depan yang lebih sehat, adil, dan manusiawi.

Karena pada akhirnya, pertanian bukan hanya tentang hasil panen, tetapi tentang bagaimana manusia menjaga kehidupan bersama.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN