Bagi Agustinus, pengalaman di Shanghai sesungguhnya bukan sesuatu yang sepenuhnya asing bagi Manggarai. Fondasi menuju ekosistem pertanian berkelanjutan sebenarnya telah mulai dibangun oleh Yayasan Ayo Indonesia bersama berbagai pihak di Manggarai.
Selama beberapa tahun terakhir, Yayasan Ayo Indonesia mengembangkan pertanian organik berbasis kelompok, membentuk forum pedagang yang mempertemukan petani produksi dengan pedagang sayur di Pasar Ruteng, serta mendorong anggota kelompok tani bergabung dengan koperasi kredit seperti Koperasi CU Florette untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa.
Pendampingan juga dilakukan bersama PSE Keuskupan Ruteng, Konferensi Waligereja Indonesia, dan kongregasi Societas Verbi Divini (SVD) dalam memperkuat spiritualitas ekologis, solidaritas sosial, dan kesadaran menjaga lingkungan.
Petani mulai mengembangkan sayur-sayuran organik, membangun kelompok usaha bersama simpan pinjam, serta memperkuat kerja kolektif di tingkat komunitas. Ini menunjukkan bahwa benih-benih ekosistem pertanian sebenarnya sudah mulai tumbuh di Manggarai.
Namun dibandingkan dengan model pertanian komunitas di Shanghai, masih ada beberapa hal yang perlu diperkuat.
Di Shanghai, pertanian dibangun sebagai ekosistem yang utuh. Relasi antara petani, konsumen, pasar, pengelola, dan pemerintah terhubung melalui komitmen jangka panjang yang jelas. Petani memiliki kepastian pasar, masyarakat loyal terhadap produk lokal, dan negara hadir mendukung keberlanjutan pertanian dari pusat hingga desa.
Sementara di Manggarai, pertanian masih didominasi produksi skala kecil dengan hubungan pasar yang belum stabil. Luasan lahan organik masih terbatas sehingga produksi belum mampu memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan. Petani juga masih menghadapi ketidakpastian harga, keterbatasan modal, dan tekanan ekonomi harian yang sering melemahkan konsistensi kerja sama.
Ironisnya, ketika masyarakat kota di Shanghai rela membayar mahal untuk kembali dekat dengan alam dan pangan sehat, banyak anak muda di desa-desa Indonesia justru perlahan meninggalkan tanah dan pertanian.
Padahal Manggarai memiliki kekuatan besar:
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







