“Sampai di sana (Rumah Sakit) kami tiba sekitar pukul 01.30 Wita, langsung ditangani oleh dokter. Setelah itu besoknya dokter bilang bahwa ini anak harus dioperasi sementara,” ungkapnya.
Sementara ayah Marselino, Hyronimus menjelaskan, pasca menjalani operasi dokter menyarankan untuk membuat BPJS mandiri agar bisa dioperasi dengan membuat lubang BAB sementara. Alhasil proses itu berjalan dengan lancar berkat upaya dari dokter di RS Ben Mboi Ruteng.
“Pada saat operasi ini anak tidak ada BPJSnya, lalu dari rumah sakit dianjurkan untuk buat BPJS mandiri sementara makanya dia bisa operasi. Itu dengan ibunya itu saya bayar satu bulan Rp70.000. Terus kurang lebih kami satu minggu lebih di rumah sakit setelah itu dokter bilang sudah bisa pulang,” ujarnya.


“Sebelum kami pulang dari rumah sakit, saat itu dokter bilang, operasi ini hanya bersifat sementara. Jadi nanti harus operasi lanjutan, dokter bilang kalau nanti sudah siap operasi lanjutan supaya saya buat surat rujukan antara di Kupang atau di mana begitu,” lanjutnya.
Sejak itu hingga kini operasi lanjutan untuk buah hati Hyronimus belum bisa dilakukan lantaran terkendala biaya. Apalagi kata dia, dokter menyarankan agar anaknya itu harus operasi di luar daerah dan membutuhkan biaya besar.
Hyronimus yang berprofesi sebagai petani mengisahkan, untuk biaya hidup sehari-hari dan membeli kantong kolostomi untuk buah hatinya saja ia dan istri tak mampu. Apalagi tuk operasi lanjutan dengan harga cukup mahal.
“Saya ini betul-betul tidak punya apa-apa tidak punya penghasilan. Makan saja susah. Untuk beli kantong untuk tampung BAB saja itu, tadi saya kaget harga kantong 1 biji 65.000, saya tidak jadi beli. Sementara anak saya ini satu hari harus butuh satu kantong. Karena itu harus diganti setiap hari. Karena kendala saya dan keluarga sekarang ini karena habis stok kantong, saya sudah bingung mencari cara agar bisa membelinya kembali,” imbuhnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel












