Allah Amat Familiar dengan Kita Manusia

Allah
idulfitri

Pekan Adven III
Kamis, 16 Desember 2021

Yesaya 54: 1-10; Lukas 7: 24-30

Allah kita bukanlah Allah yang jauh, tetapi DIA amat dekat dan akrab dengan kita. Begitu dekat dan akrab-Nya Allah itu dengan kita manusia, sehingga DIA menyatakan diri-Nya sebagai seorang suami terhadap isterinya.

Melalui nabi Yesaya, Allah sendiri berkata kepada kita sebagaimana kepada Israel: “Yang menjadi suamimu ialah Penciptamu … Sungguh, seperti istri yang ditinggalkan dan yang bersusah hati engkau dipanggil kembali oleh Tuhan. Masakan istri masa muda akan tetap ditolak? … Sesaat saja Aku meninggalkan dikau, tetapi karena kasih sayang yang besar, Aku memanggil engkau kembali. Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau” (Yes 54: 5-8).

Dari sabda Tuhan ini, hendaklah kita merasa dekat dan akrab satu dengan yang lain sama seperti halnya suami dan istri. Hendaklah Tuhan tetap menjadi magnet yang menarik kita untuk senantiasa merasa dekat satu sama lain dalam hidup bersama, apa pun perbedaan dan keragaman di antara kita.

Perbedaan di antara kita bukanlah suatu kondisi yang membuat kita berpisah dan tercerai berai, tetapi justru menjadi tali kasih yang mengikat kita menjadi lebih akrab dan lebih erat dan lebih kuat lagi untuk bersatu seorang terhadap yang lain.

Khusus bagi pasangan suami isteri atau bapa ibu dalam keluarga, hendaklah bapa ibu atau para suami istri terus belajar dari Tuhan. Terhadap manusia Tuhan itu tampil sebagai seorang suami yang begitu setia terhadap istrinya. Begitulah pula suami isteri atau bapa ibu, hendaklah selalu tetap dekat dan akrab satu sama lain.

Dalam keluarga tentu ada sikap dan perilaku yang tidak berkenan yang ada pada pasangan hidup masing-masing. Akan tetapi hendaklah hal-hal yang tidak berkenan itu tidak boleh menjadi alasan untuk berjauhan atau untuk berpisah satu dari yang lain. Oleh karena alasan satu dan lain hal, suami istri atau bapa ibu pasti bisa bertengkar dan merasa renggang atau jarak hubungan atau komunikasi satu terhadap lain. Akan tetapi kondisi itu tidak boleh dibiarkan bertahan lama, apalagi untuk berlangsung selama-lamanya. Kesetiaan dan kasih sayang seperti yang diperlihatkan oleh Tuhan kiranya selalu dan tetap mengajak dan memanggil suami istri atau bapa ibu untuk kembali lagi bersatu atau kembali lagi menjadi lebih dekat dan akrab satu dengan yang lain.

Pertengkaran atau perkelahian karena perbedaan paham atau pandangan atau karena masalah apa saja tidak boleh menjadi pagar tembok yang memisahkan satu dengan yang lain atau menjadi gelombang tsunami yang membuat hidup keluarga atau suami istri atau bapa ibu berantakan, morat marit atau tercerai berai. Sebaliknya pertengkaran dan perkelahian hendaknya menjadi bumbu penyedap yang selalu dicari untuk membuat aroma makanan hidup keluarga semakin enak dan lezat rasanya untuk dicicipi dan dinikmati dalam ziarah hidup di dunia ini.

Doaku dan berkat Tuhan
Mgr Hubertus Leteng