infopertama.com – Kemerdekaan tidak pernah lahir dari kenyamanan yang membelenggu, melainkan dari keberanian menghadapi risiko kebebasan.
“Burung terbang tak di dalam sangkar, sebab sayap tak pernah dicipta untuk diam. Ia memilih langit yang luas dan luka angin, daripada aman yang mengekang namanya.”
Ketika seekor burung memilih terbang di bawah terik matahari, ia tidak sedang menantang rasa sakit ia sedang menerima konsekuensi dari kebebasannya.
Ia tidak menolak panas, sebab dari sanalah ia belajar beradaptasi dengan kehidupan. Baginya, lebih baik sayapnya letih oleh langit yang luas daripada hidup tenang di dalam sangkar emas kenyang, tetapi kehilangan arah pulang.
Kita sering dibuat bingung: mengapa ada yang memilih melawan sangkar, bahkan sampai mati, ketimbang hidup dalam kecukupan yang disediakan? Di situlah harga diri bekerja sesuatu yang tak selalu bisa dijelaskan oleh logika perut. Ada nilai yang lebih tinggi dari sekadar bertahan hidup: kemerdekaan itu sendiri.
Sebagai manusia, kita mengaku merdeka. Namun kemerdekaan itu kerap berhenti pada klaim, bukan pada ikhtiar. Ia menjadi slogan, bukan laku hidup.
Padahal, cita-cita tentang “rumah besar” tidak mungkin ditegakkan oleh satu orang, satu kelompok, atau satu generasi saja. Ia adalah kerja panjang yang menuntut perjumpaan gagasan, keberanian menerima perbedaan, dan kesediaan berkompromi tanpa kehilangan prinsip.
Bukankah sejak lahir manusia telah dibekali kebebasan berpikir? Maka perbedaan bukan ancaman, melainkan keniscayaan. Yang menjadi persoalan justru ketika fanatisme menutup pintu dialog ketika seseorang begitu yakin pada gerakannya, tetapi lupa memahami arah perjuangan yang hendak dicapai.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel

Tinggalkan Balasan