Cepat, Lugas dan Berimbang

Apakah KBG Masih Menjadi Wajah Hidup Gereja?

Oleh Rikhardus Roden Urut

infopertama.com – Kunjungan pastoral ke 49 Komunitas Basis Gerejani (KBG) yang telah dilaksanakan di Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong menjadi sebuah pengalaman iman yang patut disyukuri, terlebih dalam suasana masa prapaskah. Perjumpaan dengan umat di tingkat basis menghadirkan wajah Gereja yang nyata: sederhana, terbuka, inklusi, dekat, namun sekaligus menyimpan banyak harapan dan tantangan.

Gereja, sebagaimana ditegaskan sejak Konsili Vatikan II, hidup dalam empat dimensi yang tak terpisahkan: pewartaan, pengudusan, pelayanan kasih, dan persekutuan. Keempatnya bukan sekadar bidang kerja, melainkan napas kehidupan iman itu sendiri. Teolog Avery Dulles menyebut Gereja sebagai communion of mission—persekutuan yang diutus, yang tidak hanya berkumpul, tetapi menghadirkan Kristus dalam kehidupan nyata.

Sejarah lahirnya KBG mengingatkan kita akan jati dirinya. Komunitas ini bertumbuh dari pergulatan umat kecil di Amerika Latin sekitar tahun 1960–1970-an, di tengah himpitan kemiskinan dan ketidakadilan. Dalam Konferensi Medellín, Gereja menegaskan keberpihakannya kepada kaum kecil dan tersingkir, serta mendorong lahirnya komunitas basis sebagai bentuk Gereja yang hidup di tengah umat.

Semangat ini kemudian diadopsi oleh Gereja di Indonesia melalui Konferensi Waligereja Indonesia (yang sebelumnya dikenal sebagai MAWI – Majelis Wali Gereja Indonesia) sekitar awal tahun 2000-an, sebagai arah pastoral untuk membangun Gereja yang lebih partisipatif, kontekstual, dan berakar pada kehidupan umat di tingkat basis.

Namun dalam kenyataan, KBG sering kali belum sepenuhnya menjadi ruang hidup iman seperti yang dicita-citakan. Ia masih berhenti pada pertemuan doa, belum berkembang menjadi ruang di mana umat membaca hidupnya bersama, berbagi pergulatan, dan mencari terang Sabda Tuhan untuk melangkah.

Katekese dan pembacaan Kitab Suci pun kadang masih berjalan sebagai kegiatan, belum sepenuhnya menjadi kekuatan yang mengubah cara berpikir dan bertindak. Sabda Tuhan belum selalu hadir sebagai terang yang menuntun umat dalam menghadapi persoalan nyata: kesulitan ekonomi, relasi dalam keluarga, maupun tantangan kehidupan sosial.

Akibatnya, muncul jarak antara iman yang dirayakan dan kehidupan yang dijalani. Kegiatan tetap berjalan, tetapi transformasi belum sungguh terasa.

Padahal, dalam Injil kita melihat Yesus yang selalu hadir dalam realitas hidup manusia. Ia tidak menjauh dari kemiskinan, ketidakadilan, dan luka kehidupan. Ia justru masuk ke dalamnya, menyapa, menyembuhkan, dan memulihkan. Ia tidak hanya berbicara tentang Allah, tetapi menghadirkan kasih Allah secara nyata.

Maka pertanyaan ini layak kita renungkan bersama:
untuk apa kita berdoa, membaca Kitab Suci, dan berkatekese, jika masih ada saudara-saudari kita yang bergumul dalam kesulitan hidup, yang perlahan menjauh, bahkan tidak lagi hadir dalam perayaan iman?

Kenyataan lain yang tak kalah mengusik adalah partisipasi umat yang belum merata. Di beberapa KBG, komitmen membangun Gereja “dari, oleh, dan untuk umat” masih rendah. Hal ini tampak dalam gerakan syukur yang belum optimal, di mana memberi masih dipandang sebagai beban, bukan sebagai ungkapan iman dan solidaritas.

Keterlibatan anak-anak dan orang muda dalam SEKAMI dan OMK juga masih rendah. Dalam banyak hal, ini tidak lepas dari kurangnya kesadaran dan pemahaman orang tua tentang pentingnya pembinaan iman sejak dini. Akibatnya, Gereja menghadapi tantangan serius dalam membangun keberlanjutan iman generasi muda.

Di sisi lain, kehidupan KBG sering kali masih bertumpu pada ketua, tanpa pembagian peran yang jelas. Hal ini membuat partisipasi umat tidak berkembang secara maksimal, dan semangat persekutuan menjadi lemah.

Semua ini menunjukkan bahwa persoalan utama kita bukan sekadar pada kegiatan, melainkan pada kedalaman iman. Ketika iman belum sungguh menjadi cara hidup, maka keterlibatan pun menjadi pilihan tambahan, bukan kebutuhan.

Di tengah kenyataan ini, kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang jujur dan mendasar: apakah KBG masih sungguh menjadi wajah hidup Gereja?

Jawabannya: belum sepenuhnya.
KBG masih hidup sebagai wadah, tetapi belum selalu menjadi cara hidup iman yang nyata dan transformatif.

Namun harapan tetap terbuka. Pembaruan selalu mungkin, jika ada kesadaran dan kemauan untuk berubah.

Arah Pembaruan yang Mendesak

Agar KBG kembali menjadi wajah hidup Gereja, beberapa langkah mendasar perlu ditegaskan:

Pertemuan KBG harus bermakna, tidak hanya doa, tetapi selalu ada Sabda, sharing hidup, dan aksi nyata.

Dimensi diakonia harus dihidupkan, dengan kepedulian konkret kepada umat yang sakit, miskin, dan menjauh.

Keterlibatan semua umat perlu dibangun, bukan hanya didominasi kelompok tertentu.

Semangat memberi perlu dimurnikan, sebagai ungkapan iman, bukan beban.

Tanggung jawab perlu dibagikan, agar KBG menjadi milik bersama, bukan bertumpu pada satu orang.

Kebiasaan iman perlu dibangun, melalui langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, sebagaimana diingatkan oleh James Clear.

Penegasan Akhir

KBG akan menjadi wajah hidup Gereja bukan karena banyaknya kegiatan,
melainkan karena iman sungguh dihidupi, umat saling peduli, dan Kristus hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Jika ini tidak terjadi, KBG akan tetap berjalan sebagai rutinitas.
Namun jika ini dihidupi, KBG akan sungguh menjadi Gereja yang hidup—hadir, peduli, dan membawa perubahan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel