Cepat, Lugas dan Berimbang

Gandeng Kevikepan Ruteng, Ayo Indonesia Perkuat Peran Pastor Paroki Dalam Pastoral Inklusif ODGJ

0-0x0-0-0#

Ruteng, infopertama.com – LSM Ayo Indonesia menggelar workshop peningkatan kapasitas pelayanan bagi kelompok ODGJ yang diikuti para Pastor Paroki se-Kevikepan Ruteng. Kegiatan ini berlangsung di Aula Unio Keuskupan Ruteng, Kuwu, pada Kamis, 21 Agustus 2025.

Workshop ini mengusung tema Pelayanan Pastoral dan Sakramental bagi Umat Penyandang Masalah Kesehatan Jiwa di Kevikepan Ruteng dengan tujuan memperkuat peran para imam dan Dewan Pastoral Paroki dalam memberikan pelayanan yang berbasis iman, inklusif, dan relevan dengan konteks sosial umat yang mengalami gangguan jiwa.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Direktur Ayo Indonesia, Tarsi Hurmali beserta jajaran, Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Bertolomeus Hermopan, Romo Vikep Ruteng Dyonysius Osharjo, serta 25 peserta yang terdiri dari para pastor paroki, pastor dekan, dan pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) Kevikepan Ruteng.

Dalam sambutannya, Romo Dyonysius menekankan bahwa pelayanan tertahbis tidak hanya menyasar umat yang sehat secara fisik dan rohani, tetapi juga mereka yang mengalami sakit, termasuk gangguan psikis. “Harus diakui, ada kelompok umat yang selama ini sulit dijangkau dalam pelayanan, salah satunya karena keterbatasan pemahaman kita terhadap masalah kejiwaan,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa umat penyandang masalah kesehatan jiwa adalah bagian sah dari Gereja dan memiliki hak yang sama untuk menerima pelayanan sakramental dan pastoral yang layak. “Workshop ini sangat penting karena memberikan kita gambaran dan pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan mereka. Dengan begitu, pelayanan yang kita berikan bisa lebih tepat, menyeluruh, dan sesuai,” tambahnya.

Romo Dyonysius juga menyampaikan terima kasih kepada LSM Ayo Indonesia yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut dan berharap para pastor paroki semakin siap memberikan pelayanan yang inklusif kepada seluruh umat.

Sementara itu, Direktur Yayasan Ayo Indonesia, Tarsi Humali, mengungkapkan bahwa per Juni 2025, terdapat 892 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Manggarai yang tersebar di wilayah kerja 25 puskesmas. Angka ini terus meningkat setiap tahun, sementara layanan kesehatan mental masih sangat terbatas. “Saat ini, satu-satunya klinik rehabilitasi ODGJ di Manggarai, yakni Renceng Mose, hanya mampu menampung sekitar 30 pasien. Situasi ini menuntut adanya pendekatan baru yang tidak semata bergantung pada institusi seperti puskesmas dan klinik,” ujar Tarsi.

Sejak 2024, Ayo Indonesia telah mengembangkan program kesehatan jiwa berbasis komunitas di 16 desa, 3 kecamatan, dan menjangkau 7 puskesmas. Program ini mencakup pelatihan kader dan tenaga kesehatan, pendampingan ODGJ dan keluarganya, pembentukan kelompok swabantu, serta pembentukan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) tingkat kecamatan.

Menurut Tarsi, pendekatan komunitas lebih menekankan pada pemberdayaan lokal dan solidaritas sosial dalam proses pemulihan, bukan hanya tindakan medis.

Ia juga menegaskan bahwa Gereja memiliki peran strategis dalam isu ini, sebagai institusi spiritual dan sosial yang mampu membangun pemahaman, kasih, serta sistem dukungan bagi penyintas gangguan jiwa. “Dalam semangat belas kasih Kristus, Gereja dipanggil untuk hadir—mendengarkan tanpa menghakimi, mendampingi dengan kasih, dan mendorong pemulihan melalui komunitas,” katanya.

Selanjutnya, Kepala Dinas Kesehatan Manggarai, Bertolomeus Hermopan, melaporkan bahwa jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Kabupaten Manggarai mencapai 899 orang. Data ini dihimpun dari seluruh puskesmas di wilayah tersebut dan menunjukkan tren kenaikan kasus sebesar 100–150 orang setiap tahun. Dari total tersebut, sekitar 89 persen di antaranya masuk dalam kategori skizofrenia berat.

Hermopan menjelaskan bahwa salah satu gejala awal yang umum ditemui adalah depresi, ditandai dengan perilaku menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan semangat, serta hilangnya minat terhadap aktivitas sehari-hari.

Ia juga menekankan pentingnya menghapus stigma terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Ia menegaskan bahwa Dinas Kesehatan tidak pernah memperlakukan ODGJ sebagai orang gila. “Mereka adalah bagian dari masyarakat yang berhak mendapat perlakuan manusiawi dan pelayanan yang layak,” tegasnya.

Faktor pemicu dominan meliputi tekanan ekonomi, kondisi sosial yang tidak stabil, serta pengaruh budaya lokal yang belum sepenuhnya memahami isu kesehatan jiwa.

Sementara itu, Pater Yosef Masan Toron, SVD, dalam pemaparan materinya menyoroti peran Gereja Katolik dalam pelayanan bagi penyandang disabilitas, termasuk ODGJ. Ia menyebutkan bahwa disabilitas merupakan bagian dari pelayanan diakonia gereja. Dalam konteks Tahun Yubelium Keuskupan Ruteng bertema Ekaristi Transformatif, Pater Yosef mengajak seluruh umat untuk menjadikan semangat Ekaristi sebagai wujud nyata kepedulian, termasuk terhadap kelompok ODGJ. “Pintu kudus dibuka untuk menyalurkan kasih dan rahmat, terutama bagi mereka yang terpinggirkan,” ujarnya.

Dalam sesi berikutnya, Jerry Santoso, Koordinator Program Kesehatan Mental Ayo Indonesia, melaporkan bahwa jumlah penyandang disabilitas di Kabupaten Manggarai mencapai 3.911 orang. Ia menekankan perlunya pendekatan berbasis komunitas dalam pemulihan ODGJ.

Dalam sesi sharing, salah satu peserta, Bruder Philip dari Renceng Mose, yang kini menangani 20 pasien ODGJ, menyampaikan bahwa pendekatan dengan hati menjadi kunci utama dalam proses penyembuhan.

Workshop ini menghasilkan sejumlah rekomendasi, di antaranya: menerapkan pendekatan komunitas untuk pemulihan alami ODGJ, membentuk dan menjalankan Pelayanan Sosial Orang Berkebutuhan Khusus (PSOBK) di setiap paroki, memperkuat kapasitas PSE dan Caritas dalam bidang kesehatan jiwa dan disabilitas, memberikan pelayanan sakramen bagi ODGJ dan keluarga, serta membangun kolaborasi antara Gereja, LSM Ayo Indonesia, biarawan/biarawati, dan komunitas basis gerejani (KBG) agar aktif mendampingi ODGJ secara rutin.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel