50 Siswa SD Ramaikan Lomba Bertutur Manggarai, Panggung Ramah Anak Penuh Antusiasme

Juri Marselus Ungkang menilai bahwa bertutur adalah keterampilan yang menyeluruh. “Anak-anak tidak cukup hanya bisa membaca. Mereka perlu memahami isi cerita, lalu menyampaikannya kembali dengan cara mereka sendiri. Ditambah lagi dengan kemampuan mengolah suara, ekspresi, hingga keberanian menguasai panggung,” ujarnya.

Sementara itu, Jefrin Haryanto melihat lomba ini dari sisi perkembangan psikologis anak. Menurutnya, pengalaman tampil seperti ini sangat penting dalam membangun rasa percaya diri. “Anak-anak belajar berani tampil, mengelola rasa gugup, dan percaya pada kemampuan diri mereka. Ini proses tumbuh yang sangat penting,” katanya.

Juri Reta Janu menambahkan, kebebasan berekspresi menjadi kunci dalam bertutur. Ia mendorong peserta untuk tidak terlalu terikat pada teks.

“Kalau anak sudah bisa lepas dari hafalan, cerita itu akan terasa lebih hidup dan jujur. Di situlah panggung benar-benar menjadi milik mereka,” tuturnya.

Sejak awal hingga akhir, suasana lomba terasa ramah anak. Penyelenggaraan yang tertata, pelayanan yang baik, serta dukungan penonton yang hangat membuat anak-anak tampil lebih lepas dan percaya diri. Panggung tidak lagi terasa menegangkan, melainkan menjadi ruang yang menyenangkan untuk berekspresi.

Di atas panggung, para peserta tidak hanya mengandalkan hafalan. Mereka mampu menghidupkan cerita melalui ekspresi, intonasi, dan penghayatan yang kuat. Cerita-cerita yang dibawakan pun sarat nilai budaya, sekaligus menjadi cara sederhana namun bermakna dalam merawat warisan lokal Manggarai.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel