Mengangkat perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati, Uskup mengajak umat untuk tidak membatasi makna sesama berdasarkan identitas, suku, maupun agama.
“Belaskasih bukanlah perasaan sesaat, melainkan sikap hidup yang diwujudkan dalam tindakan nyata,” pesannya.
la juga menggambarkan Gereja sebagai “penginapan di tepi jalan”, tempat setiap orang yang terluka menemukan perlindungan dan harapan. Menurutnya, iman tidak cukup hanya diwujudkan dalam altar, tetapi harus hadir melalui tindakan nyata yang menyentuh dimensi kemanusiaan.
Sementara itu, Provinsial Provinsi Santa Francesca Cabrini Asia-Australia, Padre Martin Ignacio Gutierrez, CS, menyampaikan rasa syukur atas dimulainya rangkaian perayaan 25 tahun kehadiran Ordo Scalabrinian di Indonesia.
la mengenang bahwa pada 29 Juni 2002, mendiang Mgr. Eduardus Sangsun, SVD secara resmi menerima dan membuka karya pelayanan para misionaris Scalabrinian di Keuskupan Ruteng.
Padre Nacho, CS menjelaskan bahwa Kongregasi Missionaries of Saint Charles Scalabrinians didirikan pada tahun 1887 oleh Santo Yohanes Baptista Scalabrini, Uskup Piacenza, Italia. Kongregasi ini lahir dari keprihatinan terhadap para migran yang meninggalkan tanah air dan membutuhkan pendampingan iman serta kemanusiaan.
Dalam kesempatan tersebut, Mgr. Sipri Hormat juga menyampaikan apresiasi kepada para imam Scalabrinian yang telah mengabdikan diri selama lebih dari dua dekade dalam pelayanan kepada para migran, pelaut, dan pengungsi di Keuskupan Ruteng.
la berharap semangat pelayanan Santo Yohanes Baptista Scalabrini terus menjadi inspirasi untuk membangun Gereja yang hadir, terbuka, dan berjalan bersama mereka yang membutuhkan harapan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











