“Karbon yang terkandung dalam biochar sangat baik untuk tanah karena membantu menjaga kehidupan mikroorganisme yang berperan penting dalam meningkatkan kesuburan tanah,” jelas Lisa.
Pada sesi lejong atau diskusi, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Salah seorang pengurus BUMDes menyampaikan harapannya agar Yayasan Ayo Indonesia dapat memberikan pelatihan biochar kepada kelompok masyarakat yang sedang mengembangkan usaha hortikultura di desa. Saat ini BUMDes Bangka Tonggur sedang mengembangkan usaha hortikultura sebagai salah satu strategi peningkatan pendapatan masyarakat dan desa. Karena itu, teknologi biochar dinilai penting untuk membantu petani meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.
Sementara itu, Kepala Desa Bangka Tonggur menanyakan apakah biochar dapat digunakan untuk semua jenis tanaman pangan dan sayuran. Menanggapi pertanyaan tersebut, Ayu Gandut dan Lisa menjelaskan bahwa biochar dapat diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman pangan maupun hortikultura. Namun dosis dan cara penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman agar hasilnya optimal.
Pada akhir kegiatan, Rikhard Haryanto memfasilitasi sesi lejong untuk menyusun rencana tindak lanjut kerja sama antara Pemerintah Desa Bangka Tonggur, Kelompok Disabilitas Desa, dan Yayasan Ayo Indonesia. Melalui diskusi tersebut, peserta menyepakati sejumlah program prioritas, yaitu pelatihan pembuatan biochar, animasi gizi keluarga, pelatihan literasi keuangan, pelatihan pemasaran dan kewirausahaan, serta kegiatan belajar petani dengan petani sukses di Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Ngada.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











