“Saya harapkan juga Kabupaten serius untuk dukung pengembangan tanaman kelor ini. Ini peluang usaha yang sangat menjanjikan dan tidak terlalu sulit dikembangkan. Karena pohon kelor dapat tumbuh dengan mudah di daerah NTT. Kita bisa kembangkan, asalkan ada niat dan tekad yang kuat dari masyarakat,” kata Gubernur.
Sementara itu Owner PT Marada Kelor Sumba, Eduardus Seran Klau mengungkapkan dengan usaha pengolahan kelor yang dikembangkannya ini sangat mengubah hidupnya karena mendapatkan manfaat ekonomi yang besar.

“Saya akui kalau kelor mengubah hidup saya. Saya awalnya bekerja sebagai tukang ojek dan kemudian saya sering mendengarkan dorongan dari Bapak Gubernur untuk mengembangkan kelor. Setelah saya terus mencari tahu kemudian saya sadar kalau ternyata kita punya peluang besar dari usaha kelor ini,” ungkapnya.
“Setelah mulai merintis usaha ini pada akhir 2019 hingga saat ini sudah menjadi perusahaan pengolahan kelor ini maka saya bisa mendapatkan penghasilan hingga 70 sampai 80 juta rupiah per bulan. Produknya berupa teh kelor dan tepung kelor yang saat ini kita jual ke Kalimantan, Labuan Bajo, Jawa dan beberapa kabupaten di NTT,” kata Eduardus.
Eduardus mengungkapkan, untuk pengolahan kelor di PT Marada Kelor Sumba ini membutuhkan 3 ton daun kelor basah setiap bulan. “Kita butuh 3 ton daun kelor basah per bulan dan setelah pengeringan bisa menjadi 500 Kg. Kita kerjasama dengan para petani kelor yang kita libatkan untuk memanen kelor. Setelah itu dibersihkan dan dikeringkan dengan oven kemudian diolah menjadi tepung kelor dan juga menjadi teh kelor dengan total produksi per bulan minimal 1000 pcs teh kelor dan 1000 pcs tepung kelor” katanya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







