
Integrasi panas bumi dengan ekonomi lokal akan memperkuat ketahanan komunitas dalam menghadapi perubahan. Hal ini sekaligus menurunkan resiko ketergantungan ekonomi terhadap sektor tertentu saja.
Pri Utami juga menyerukan penerbitan regulasi khusus mengenai pemanfaatan langsung energi panas bumi. Regulasi ini dinilai penting untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja yang berbasis energi bersih dan berkelanjutan.
Tak kalah penting, menurutnya adalah pendidikan. Pendidikan berbasis lokal ini diyakini dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap potensi energi di wilayah masing-masing. Anak-anak muda yang memahami potensi daerahnya akan menjadi agen perubahan yang berdaya.
“Perlu ditumbuhkembangkan perangai ilmiah melalui edukasi panas bumi, termasuk melalui muatan lokal mengenai geologi dan potensi panas bumi Indonesia, baik di sekolah formal maupun di ruang-ruang edukasi publik,” ujarnya.
Poin terakhir yang ia soroti adalah keterbukaan informasi lingkungan. Transparansi dalam kondisi awal lingkungan dan hasil pemantauan dinilai krusial agar masyarakat dapat memahami penyebab perubahan di area sekitar proyek panas bumi serta langkah mitigasi yang diambil.
Informasi seperti ini tidak hanya berguna untuk meredam konflik, tapi juga sebagai dasar evaluasi bersama secara periodik.
“Pengawasan partisipatif pun menjadi lebih mungkin terjadi ketika data terbuka bagi publik,” pungkasnya.
UGM sebagai institusi pendidikan tinggi memiliki peran besar dalam mendukung pengembangan energi panas bumi. Kampus ini dapat berkontribusi dalam mencetak sumber daya manusia unggul, meningkatkan kualitas eksplorasi, mengembangkan teknologi ekstraksi yang ramah lingkungan, serta menyusun kajian ilmiah untuk memastikan pengembangan energi panas bumi berjalan aman, menyejahterakan masyarakat, dan berkelanjutan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











