“Keadilan merupakan bagian dari kebajikan manusia dan ikatan yang menyatukan manusia dalam masyarakat, maka keadilan perlu diupayakan oleh insan-insan yang terjun di dunia politik,” ujar Dhimas.
Pada kegiatan seminar tersebut, Teresa Melysa selaku moderator menegaskan bahwa seni politik memang terkait dengan “siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana” seperti yang dipopulerkan Harold Lasswell.
Namun, menurut Dhimas hal tersebut tidak boleh dimaknai secara sempit hanya mengenai kekuasaan dan jabatan, melainkan justru mendorong setiap orang yang menerima kuasa politik itu menggunakan semua kapasitasnya untuk menyejahterakan masyarakat.


Kerja politik

Dhimas menerangkan, kerja politik pada dasarnya mengatur tata laksana hidup bersama, seperti yang dilakukan oleh Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif.
Untuk itu masyarakat diajak berpartisipasi aktif dalam pesta demokrasi dengan memilih calon-calon wakil rakyat dan pemimpin negara secara bijaksana.
Pemilu bukan untuk mencari orang yang terbaik, tapi mencegah yang terburuk berkuasa. Maka, masyarakat diajak untuk tidak golput dalam Pemilu mendatang.
Pada saat yang sama, Ketua Circles Indonesia menerangkan bahwa dalam masa kampanye semua politisi ingin dikenal, disukai, dipilih. Dalam proses ini, secara natural ada godaan yang perlu diwaspadai, yaitu praktik “Negative Campaign” dan “Black Campaign”.
Dhimas menerangkan, “Negative campaign adalah praktik menunjukkan kelemahan dan kesalahan lawan politik, atau biasa juga disebut dengan ‘argumentum ad hominem.’ Ini tidak melanggar hukum, tapi sebaiknya tidak digunakan.”
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






