Trauma Pascagempa M7,7, Bupati Manggarai Berencana Libatkan PMKRI dan GMNI

“Semua yang bisa berpartisipasi, mari kita libatkan. Kita perlu bekerja bersama untuk membantu masyarakat kembali bangkit setelah bencana,” ujar Bupati.
Menurutnya, penanganan pascabencana tidak semata-mata berkaitan dengan pembangunan kembali rumah dan fasilitas yang mengalami kerusakan. Pemulihan kondisi psikologis masyarakat juga menjadi bagian penting yang harus mendapat perhatian.

Anak-Anak Masih Mengalami Trauma

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kabupaten Manggarai, Maria Yasinta Aso, dalam rapat tersebut menyampaikan bahwa sejumlah anak terdampak gempa masih mengalami trauma.

Kondisi tersebut ditandai dengan adanya anak-anak yang masih merasa takut dan bahkan enggan kembali ke rumah. Pengalaman saat gempa dan getaran susulan membuat sebagian anak belum sepenuhnya merasa aman untuk kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

“Anak-anak korban gempa bumi masih trauma dengan gempa yang terjadi. Mereka bahkan enggan untuk kembali ke rumah. Karena itu, kita perlu mengatasi trauma yang mereka alami saat ini,” ujar Maria.

Menurut Yasinta Aso, kondisi psikologis anak-anak penyintas gempa perlu mendapat perhatian serius. Penanganan bencana tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan pangan, tempat tinggal dan kebutuhan dasar lainnya, tetapi juga harus disertai dengan pendampingan psikososial.

Pendampingan tersebut diperlukan untuk membantu anak-anak mengembalikan rasa aman, mengurangi ketakutan dan secara perlahan memulihkan kondisi psikologis mereka setelah mengalami bencana.

Perkuat Kolaborasi

Bupati Manggarai menilai penanganan trauma membutuhkan pendekatan bersama. Karena itu, pemerintah daerah membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki kepedulian dan kapasitas untuk membantu masyarakat terdampak.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel