Situasi mulai hening, lewat pengeras suara, saya mendengar suara wanita yang mengajak umat dalam gereja ‘tuk mengikuti ekaristi.
Misa inkulturasi. Suara yang masuk ke telinga saya. Mendengar kata inkulturasi saya coba mengeluarkan buku kecil yang saya dapatkan di halaman gereja dari petugas. Buku panduan misa.
Halaman depan buku kecil itu ada tulisan “Pepil Rame Misa” (Tata Perayaan Ekaristi).
Sekelompok orang di depan saya sontak berdiri, bapak-bapak dan ibu-ibu. kompak mengenakan baju putih, plus deng lipa songke, tenunan Khas Manggarai. Pas sudah gumamku. Misa Inkulturasi.
Ekaristi dimulai. Seorang ibu dengan rambut sebahu, sangat Cantik dengan balutan Lipa Songke. Ia Maju menuju mimbar kecil, memimpin rekan-rekannya. Rupanya ibu ini dirigen (Pemimpin Koor). Benar saja, lagu pembuka berbahasa Manggarai dengan iringan bunyi gong dan gendang menambah semarak suasana perarakan. Tentu juga suara merdu anggota Koor.

Sementara itu, di kejauhan tampak terlihat kelompok anak-anak dengan balutan Songke berarakan menuju Altar suci. Di belakang mereka, para misdinar dan tentu sang Imam, pemimpin Ekaristi Misa Inkulturasi sore ini.

Imam membuka misa inkulturasi dengan tentunya bahasa Manggarai. “Le ngasang de Ema agu de Anak agu de Nai Nggeluk.” Yang kemudian seisi gereja serempak menjawab Amen. Lengkikan suara anak-anak SDK Ruteng VI di dekatku membuyarkan konsentrasi.
Inkulturasi, Serba Manggarai
Ritus demi ritus ekaristi berjalan lancar dan semuanya menggunakan bahasa Manggarai. Sesekali sang imam dalam khotbahnya menggunakan dialeg Kolang. Ia pun berpesan agar manusia selalu mampu “momang ata sot toe momang ite” (Mengasihi Musuh).
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







