Ini adalah bagian yang paling penting. Jika dia sudah menjadi istri orang, maka ada kehidupan, pasangan, keluarga, dan komitmen yang harus dihormati. Perasaan kita tidak otomatis membuat kita memiliki hak atas dirinya.
Jangan menjadi tempat pelarian ketika ia sedang bertengkar dengan suaminya. Jangan memanfaatkan kelemahannya ketika rumah tangganya sedang bermasalah. Jangan memberikan perhatian dengan maksud perlahan-lahan menggantikan posisi suaminya.
Sebab hubungan yang dimulai dengan merusak kebahagiaan orang lain sering kali membawa luka yang panjang. Cinta yang sehat tidak membutuhkan pengkhianatan sebagai jalan untuk mendapatkan kebahagiaan. Jika benar mencintainya, maka jangan jadikan ia harus memilih antara perasaannya kepada kita dan tanggung jawabnya terhadap keluarganya.
3. Belajar menerima kenyataan, bahwa tidak semua yang kita cintai harus menjadi milik kita.
Ini mungkin bagian yang paling sulit. Kita sering berpikir bahwa jika perasaan itu tulus, maka semestinya ada kesempatan untuk memilikinya. Padahal kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.
Ada orang yang kita cintai tetapi hanya boleh kita kagumi dari kejauhan. Ada seseorang yang begitu cocok dengan hati kita, tetapi bukan berarti ia ditakdirkan untuk menjadi pasangan kita. Menerima kenyataan bukan berarti cinta kita palsu. Justru terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta yang paling dewasa.
Kita mengakui bahwa perasaan itu ada, tetapi kita tidak membiarkannya mengendalikan tindakan. Kita boleh rindu, tetapi tidak harus mencari. Kita boleh kecewa, tetapi tidak harus mengganggu. Kita boleh mencintai, tetapi tetap harus tahu batas. Because kedewasaan seorang pria bukan hanya terlihat dari bagaimana ia mendapatkan wanita yang dicintainya, tetapi juga dari bagaimana ia mampu menghormati wanita yang tidak bisa menjadi miliknya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











