Satu-satunya perabotan yang tersisa di sudut ruangan hanyalah sebuah kursi kayu tua yang berdiri di antara tumpukan batako pecah.
Rasa sedih dan bingung membuncah. Rumah tembok sederhana itu dibangun dari hasil keringat dan kerja keras di sisa masa tua mereka. Namun, di balik duka yang mendalam, Onalia dan keluarga tetap mengucap syukur karena seluruh anggota keluarga selamat dari maut.
Usai bencana, mereka sempat mengungsi ke Posko Bersama di Kantor Camat Cibal. Selama masa-masa sulit di pengungsian kecamatan tersebut, Onalia dan para korban bencana mendapatkan kehangatan serta kekuatan luar biasa dari sosok pimpinan wilayah mereka. Camat Cibal, Herybertus Wahang Ganar, bersama sang istri hadir penuh empati bak figur orang tua bagi Onalia dan seluruh penyintas. Perlakuan yang sangat tulus, ramah, dan penuh perhatian dari Pak Camat beserta istri memberikan penghiburan mendalam di tengah kepedihan mereka.
Namun, beberapa hari setelahnya, Onalia dan keluarga memilih kembali ke area sekitar rumah dengan mendirikan tenda seadanya. Kisah pilu belum usai. Saat masih berada di posko pengungsian, Cecik sempat jatuh sakit hingga harus mendapat perawatan medis di Puskesmas Pagal. Di sudut ruangan puskesmas itulah, air mata Onalia menetes deras karena bingung membayangkan ke mana harus membawa cucunya pulang setelah keluar dari pengungsian.
Saat memberanikan diri kembali melangkah ke dalam reruntuhan rumahnya, tak ada lagi perabotan dapur yang utuh. Gelas dan piring kaca hancur berantakan menjadi serpihan kecil, sementara periuk, tacu, dan peralatan memasak berbahan seng pecah serta peyok tertimpa balok beton.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











