Namun, ia juga menyoroti fenomena maraknya praktik ijon yang menjerat para petani. “Ijon itu ketika orang yang punya uang memberikan pinjaman sebelum panen, biasanya di bulan Januari–Februari. Akibatnya, harga kopi bisa ditebus setengah dari harga normal, dan petani tak punya pilihan,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya perhatian dan dukungan dari berbagai pihak untuk meremajakan tanaman kopi serta menciptakan sistem pembiayaan yang sehat bagi petani agar potensi kopi Manggarai sehingga dapat mempertahankan kopi sebagai produk unggulan Manggarai.
“Kalau dulu, orang di Colol itu tidak maunjadi PNS, karena hasil kopi mereka itu satu hektare, minimal hasilnya satu ton,” ujarnya menggambarkan produktivitas kopi yang bagus.
Ia berharap melalui sinergi ini, lembaga keuangan bisa ikut membantu memberikan solusi pendanaan yang tepat bagi petani.
“Dengan pendanaan yang memadai, petani bisa mulai memugar lahannya dan menanam pohon kopi baru demi keberlanjutan produksi,” tambahnya.
Langkah ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan petani, khususnya dalam memperkuat sektor pertanian kopi yang menjadi komoditas unggulan daerah.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







