Dari pengakuan di forum tersebut, Bony sendiri telah menunjukkan dedikasi kuat terhadap pengembangan kopi lokal. Kecintaannya terhadap kopi diwujudkan melalui pendirian Kafe Kopi Mane, yang menjadi ruang promosi dan edukasi kopi khas Manggarai.
Dirinya juga aktif memasarkan kopi Manggarai ke kancah internasional, termasuk ke Madrid, Kuala Lumpur, dan Yordania. Ia menyebut bahwa kopi asal Manggarai kini telah menembus pasar global dan menjadi komoditas unggulan yang mampu bersaing secara kualitas bahkan eputasi kopi Manggarai telah diakui secara nasional dan internasional.
” Pertemuan saya terakhir dengan Gubernur NTT, ketika dia berkunjung ke Labuan Bajo, beliau ajak nge-push juga kopi ini sebagai salah satu produk unggulan selain memberi kesejahteraan petani juga meningkatkan PAD Provinsi NTT,” ujarnya.
Ia menambahkan, kopi dari Manggarai telah mengantongi dua sertifikat dari Kementerian Hukum dan HAM melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Pengakuan ini menjadi bukti bahwa kopi Manggarai memiliki kualitas tinggi.
“Karena tidak semua kopi di Manggarai bahkan di seluruh Indonesia bisa mendapatkan sertifikat seperti itu,” kata Bony.
Baik jenis Arabika maupun Robusta dari Manggarai, lanjut Bony, telah menunjukkan prestasi di berbagai ajang kompetisi kopi internasional, dengan capaian minimal medali perunggu.
“Bahkan kopi Robusta kita di Paris tahun 2015, mendapatkan peringkat pertama seluruh dunia,” ujarnya.
Ironisnya, hal itu terjadi di tengah harga kopi yang terus menunjukkan tren tinggi. “Harga kopi Arabika sekarang tidak pernah turun di bawah Rp80 ribu per kilogram. Robusta yang dulu hanya Rp35 ribu, kini sudah tembus Rp80-90 ribu,” katanya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







