Pendeta Emmy Sahertian mengapresiasi rangkaian diskusi ini sebagai bentuk memeringatkan bahwa dalam perempuan adalah Rahim peradaban ekologis yang kerap dipinggirkan. Baginya, perempuan tidak hanya terpinggirkan. “Saat kita memperingati Hari Perempuan Internasional, pada saat bersamaan saat ini ada banyak perempuan yang menjadi korban akibat kebijakan pembangunan di sektor sumber daya alam,” tegasnya.
Selain melakukan kegiatan diskusi tematik, WALHI NTT bersama jaringan masyarakat sipil- Komunitas warga, Mahasiswa, NGO- di Kupang melakukan aksi kampanye di depan kantor Gubernur NTT pada 12 Maret 2023. Aksi kampanye ini untuk memberitahukan kepada publik luas terkait ancaman bencana ekologis di NTT dan timpangnya tata kuasa sumber daya alam di NTT yang merugikan perempuan.


Horiana Yolanda Haki selaku Koordinator Aksi menjelaskan bahwa NTT tengah menghadapi berbagai problem ekologis. Bencana ekologis kian meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun.

Menurutnya, harus ada upaya signifikan dari pemerintah daerah untuk melakukan pemulihan ekologis di NTT termasuk di dalamnya pemulihan dan penguatan hak hak perempuan.

Direktur WALHI NTT, Umbu Wulang Tanaamah Paranggi menerangkan perempuan seringkali hanya jadikan sebagai pelengkap penderita dalam berbagai kebijakan pembangunan di NTT. “Padahal dalam narasi kultural di NTT, mayoritas menempatkan perempuan sebagai simbol kerlanjutan kehidupan. Faktanya, perempuan-perempuan yang selama ini berkelindan dengan sumber daya alam, kebanyakan tidak dilibatkan. Lihat bagaimana kasus Geothermal di Flores, Kasus perkebunan tebu di Sumba, kasus hutan Pubabu di Timor Tengah Selatan. Praktis tidak melibatkan perempuan dari awal untuk menentukan masa depan kampung dan sumber daya alamnya,” tutur Umbu Wulang.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




