Tak hanya berdimensi spiritual, prosesi ini juga membawa dampak pastoral yang signifikan. Kunjungan patung Bunda Maria ke setiap stasi, wilayah, dan KBG menjadi sarana membangun komunikasi, koordinasi, dan kebersamaan antar umat.
Di setiap titik persinggahan, patung disambut secara adat Manggarai dengan pengalungan selendang dan ritual tuak curu, lalu ditahtakan sebelum dilanjutkan dengan ibadat sabda singkat. Selanjutnya, patung diarak menyusuri kampung, jalan, hingga mengunjungi sekolah-sekolah, menjadikan kehadiran Maria terasa dekat dengan seluruh lapisan umat.
Keterlibatan aktif umat dari berbagai wilayah menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap tradisi baru ini. Tidak hanya pengurus gereja, tetapi juga umat awam dari berbagai kalangan turut ambil bagian, baik sebagai pengantar, penerima, maupun peserta doa.
Pater Bovan berharap tradisi ini tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan semata, tetapi menjadi gerakan iman yang terus hidup dan berkembang.
“Kami berharap prosesi ini menjadi tradisi yang memperkuat iman dan persaudaraan umat. Ini bukan sekadar perarakan patung, tetapi perjalanan iman bersama sebagai satu keluarga Allah,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah terlibat dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada semua pengurus paroki, umat, serta pihak pemerintah seperti Dinas Perhubungan, Kepolisian, dan Satpol PP. Semoga semua yang terlibat mendapatkan berkat dan semangat pelayanan kita semakin diperbarui,” tutupnya.
Dengan semangat baru yang dihidupkan melalui prosesi ini, Paroki Karot menunjukkan bahwa iman tidak hanya dirayakan di dalam gereja, tetapi juga dihidupi bersama dalam kebersamaan, budaya, dan pelayanan nyata di tengah masyarakat.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







