Sepanjang perjalanan, doa Rosario didaraskan dan lagu-lagu pujian kepada Maria menggema, terutama lagu “Bunda Penolong Abadi” yang menjadi nyanyian wajib dalam prosesi tersebut. Suasana religius terasa kuat, menyatukan umat dalam doa dan devosi yang mendalam.
Pastor Paroki Santo Fransiskus Assisi Karot, RP. Bonivantura Y. Lelo, OFM yang akrab disapa Pater Bovan, menegaskan bahwa prosesi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat. “Dalam semangat St. Fransiskus Assisi, kita diajak untuk meneladani Bunda Maria yang mengandung Kristus dalam hati dan melahirkan-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Prosesi ini adalah cara kita menghidupkan iman itu secara nyata,” ungkap Pater Bovan saat diwawancarai, Sabtu (2/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa patung yang diarak merupakan representasi dari ikon klasik Ikon Bunda Maria Penolong Abadi, yang menggambarkan Maria memeluk Kanak-kanak Yesus dalam situasi ketakutan menghadapi sengsara.
“Ikon ini sangat kuat maknanya. Maria hadir sebagai pelindung dan penghibur. Ia menjadi tanda bahwa dalam penderitaan sekalipun, ada kasih Allah yang menyertai dan menyelamatkan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Pater Bovan menekankan bahwa prosesi ini juga menjadi jawaban atas tantangan zaman yang dihadapi umat, baik dalam kehidupan keluarga maupun pelayanan gerejani.
“Melalui devosi kepada Bunda Maria Penolong Abadi, kita memohon kekuatan di tengah berbagai persoalan hidup. Kita juga berdoa agar perdamaian tetap terjaga di tengah perpecahan yang ada,” tambahnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







