Penganiayaan: Sebuah ‘Felix Culpa’(?)

Penganiayaan
Ilustrasi Kehancuran (Venus de milo/pixabay)

PEKAN III PASKAH
Rabu, 4 Mei 2022
Bacaan: Kisah Para Rasul 8: 1b-8; Yohanes 6: 35-40

Menyusahkan dan menyengsarakan serta menyiksa dan menganiaya kehidupan, baik kehidupan sendiri maupun kehidupan orang lain adalah tindakan kekerasan yang melawan hukum Negara dan norma hidup sehari-hari. Tindakan kekerasan dalam bentuk apa saja melawan dan menentang kehidupan. Kehidupan tidak akan bertumbuh dan berkembang dengan baik dan normal, sehat dan sempurna, bila manusia terus mengalami kekerasan dalam hidup. Kekerasan menciptakan kegelisahan, kecemasan dan ketakutan dalam diri dan hidup manusia.

Meskipun kekerasan sangat negatif, amat buruk dan jahat serta mesti ditentang, dikutuk dan dibasmi dari kehidupan. Namun kekerasan seperti penganiayaan dan penderitaam lain pasti masih mengandung ‘benih’ hidup dan harapan sama halnya seperti “biji gandum” yang “jatuh ke dalam tanah dan mati (pasti) akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12: 24). Kebenaran ini kita temukan dalam bacaan I hari ini.

“Setelah Stefanus dibunuh, mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudia dan Samaria … Tetapi, Saulus berusaha membinasakan jemaat itu. Ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki serta prempuan ke luar, lalu menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara. Mereka yang tersebar menjelajah ke seluruh negeri sambil memberitakan Injil. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu” (Kis 8: 1b.3.4-6). Ada dua pikirin feflektif bagi kita.

error: Sorry Bro, Anda Terekam CCTV