Pengangguran S1 Justru dari Jurusan Favorit, Keguruan, Hukum dan Manajemen Terbanyak

Sementara pada lulusan bidang Pendidikan/Keguruan, kendala penyerapan tenaga kerja dipengaruhi oleh dinamika yang cukup kompleks. Proses masuknya sarjana Keguruan ke dunia kerja sangat bergantung pada ketersediaan formasi guru di tiap wilayah, kebijakan rekrutmen sekolah, hingga pemenuhan syarat sertifikasi profesi.

Banyaknya lulusan dari berbagai cabang pendidikan—seperti pendidikan bahasa, sains, hingga vokasi—tidak sebanding dengan kecepatan pembukaan formasi kerja resmi.

Kejutannya: Jurusan IT Turut Terseret

Tak hanya jurusan bisnis dan keguruan, fenomena sulit dapat kerja ini ternyata juga merembet ke bidang teknologi informasi. Lulusan Ilmu Komputer/Informatika yang selama ini dipandang sebagai “jurusan masa depan” menyumbang porsi 4,6 persen di antara para pengangguran sarjana.

LPEM UI menilai, meski kebutuhan industri digital terus ada, pesatnya perubahan teknologi membuat kompetensi lulusan cepat usang. Kesenjangan (gap) antara keahlian praktis yang diajarkan di kampus dengan standar teknologi yang dipakai perusahaan menjadi alasan utama lulusan IT gagal menembus persaingan.

Peringatan Bagi Pemerintah: Jangan Asal Buka Universitas Baru

Temuan ini sekaligus menjadi kritik tajam bagi rencana pemerintah yang tengah mendorong pembentukan universitas baru, seperti Universitas Republik Indonesia (URI). LPEM UI mencatat saat ini sudah ada sekitar 8 juta sarjana di Indonesia yang bekerja di bawah kualifikasi pendidikannya (underemployed).

Menambah kampus dan mencetak lebih banyak sarjana dari jurusan populer tanpa mempertimbangkan kebutuhan nyata industri dinilai hanya akan memperpanjang daftar pengangguran terdidik.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel