Namun, dalam realitas saat ini, terkadang lebih banyak perhatian yang diberikan pada pencapaian akademis semata, tanpa memperhatikan perkembangan moral dan karakter siswa. Sebagai contoh, banyak sekolah yang hanya mengejar hasil tes standar dan lomba akademis, tanpa memberikan perhatian yang cukup pada pembentukan kepribadian siswa atau pengembangan keterampilan sosial mereka.
Selain itu, kurangnya integrasi nilai-nilai lokal dan budaya dalam kurikulum pendidikan juga menjadi salah satu penyimpangan dari visi Ki Hadjar Dewantara. Beliau sangat menekankan pentingnya memahami dan memelihara warisan budaya dan nilai-nilai tradisional dalam pendidikan. Namun, dalam praktiknya, seringkali kurikulum pendidikan cenderung mengabaikan aspek-aspek ini, sehingga siswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan rasa bangga dan identitas budaya mereka.
Ki Hadjar Dewantara juga mengajarkan bahwa pendidikan harus inklusif dan mengakomodasi kebutuhan semua individu, tanpa memandang latar belakang atau status sosial mereka. Namun, dalam realitasnya, masih terdapat kesenjangan dalam akses pendidikan antara kelompok-kelompok sosial ekonomi yang berbeda. Banyak anak dari keluarga miskin atau daerah terpencil yang tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak, sehingga cita-cita kesetaraan dan inklusi dalam pendidikan belum sepenuhnya tercapai.
Sebagai hasil yang diharapkan oleh Ki Hadjar Dewantara adalah generasi yang memiliki karakter yang kuat, kreatif, peduli terhadap lingkungan sekitar, dan memiliki integritas moral yang tinggi. Mereka adalah individu yang mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa, serta mempertahankan nilai-nilai luhur kebangsaan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







