Selain itu, kelompok-kelompok anak didik yang menciptakan keonaran sering kali mencari pengakuan eksistensi mereka melalui perilaku yang merugikan orang lain. Contoh kasusnya adalah geng remaja yang melakukan tindakan vandalisme di lingkungan sekolah atau lingkungan sekitar. Mereka mungkin melakukan hal-hal tersebut untuk menarik perhatian atau mencari rasa kekuasaan, tetapi tindakan mereka mengganggu ketertiban dan kesejahteraan masyarakat.
Semua kasus ini menunjukkan bahwa pendidikan saat ini perlu lebih dari sekadar pembelajaran akademis. Pentingnya pembentukan karakter yang kuat dan pembelajaran mengenai nilai-nilai moralitas menjadi semakin penting. Dengan pendekatan yang holistik dan inklusif, pendidikan dapat menjadi alat untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah seperti bullying, kekerasan, dan perilaku merusak lainnya, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, inklusif, dan produktif.
Dalam pendidikan dewasa ini, ada beberapa hal yang terlihat tidak sejalan dengan cita-cita founding father Ki Hadjar Dewantara. Salah satu hal yang salah adalah kurangnya fokus pada pembentukan karakter dan nilai-nilai moralitas dalam proses pendidikan. Ki Hadjar Dewantara sangat menekankan pentingnya pengembangan karakter yang kuat dan kepedulian sosial sebagai bagian integral dari pendidikan.
Namun, dalam realitas saat ini, terkadang lebih banyak perhatian yang diberikan pada pencapaian akademis semata, tanpa memperhatikan perkembangan moral dan karakter siswa. Sebagai contoh, banyak sekolah yang hanya mengejar hasil tes standar dan lomba akademis, tanpa memberikan perhatian yang cukup pada pembentukan kepribadian siswa atau pengembangan keterampilan sosial mereka.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan