Karena memang akar pohon itu tidak sebanding dengan pucuk ranting dan dahan yabg telah habis ditebang.
“Karena ranting dan dahan nya habis, bawah kan kalau bahasa jawanya itu Rungkat, artinya akar itu kan banyak disertai dengan pasir yang cukup besar jadi saat ranting dan dahan habis otomatis berat bawah akhirnya kembali berdiri,” paparnya.
Disisi lain, Trias menuturkan mendengar cerita dari warga memang betul bahwa pohon beringin itu dipercaya oleh warga pohon Dayangan atau sering disebut pohon keramat.


“Kalau itu saya terus terang, kepercayaan dari warga pohon itu merupakan Dayangan (Pohon keramat), jadi memang di dikeramatkan oleh warga sekitar,” terangnya.

Hal itu karena banyak orang sekitar mempercayai Dayangan, jadi pohon yang tumbang lalu berdiri lagi mereka percaya karena Dayangan.
“Jadi kalau menurut saya iya itu karena akar yang besar tidak sebanding dengan ranting dan dahan sudah habis, ya jadinya berdiri sendiri,” imbuhnya.
Ia juga tidak mempermasalahkan jika warga mempercayai jika itu Dayangan, sebab itu hak warga sekitar mempercayai hal itu.
Pohon Punden Desa
Kepala Desa Purworejo, Hartono mengatakan pohon yang tumbang itu memanglah Dayangan punden.
“Pohon itu Dayangan, Punden Jatibedug,” ucap Hartono, saat di Konfirmasi TrinunSolo.com, Sabtu (20/1/2024).
Hartono menjelaskan, bahwa pohon beringin sebelum tumbang karena angin itu juga sempat dipagar dengan pagar warna putih.
“Iya, pohonnya dipagar biasanya disebut Panca Suci, atau juga pagar empat,” terangnya.
Selain di pagar Panca Suci, Hartono juga mengatakan bahwa pohon itu juga di selimuti kain bewarna putih.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
