
Kabar wafatnya, Daniel Dhakidae cukup mengagetkan. Pria kelahiran Toto-Wolowae, Ngada, ini wafat di usianya yang ke-76. Sebuah kehilangan karena ia adalah seorang pemikir hebat. Di setiap tulisan baik artikel mau pun buku, ia selalu mengantar orang untuk membaca melampaui fakta. Ia mengantar orang untuk menganalisis wacana.
Pertemuan kedua tahun 2006 di ruangannya, Litbang Kompas. Saya tidak ingat topik pembicaraan saat itu. Yang terekam kuat hingga kini, hanyalah kesan tentang tumpukan buku di atas meja. Hal itu memberi kesan tentang target buku yang harus dibaca setiap hari.
Secara pribadi, saya hanya bertemu Daniel dalam dua kesempatan. Pertama, tahun 1994, dalam sebuah seminar di STFK Ledalero. Daniel mengupas sejarah misi di Indonesia, dikaitkan dengan perubahan politik di Eropa saat itu. Dalam sebuah candaannya, ia menyelutuk ironis tentang terminologi ‘awam’ untuk membedakannya dari kaum biarawan. Harusnya orang risih kalau seseorang yang punya kompetensi teruji di masyarakat hanya disapa sebagai ‘awam’.
Selebihnya tidak ada. Hanya sekitar tahun 2008, seorang sahabat menginformasikan bahwa Daniel menjadi salah satu kandidat rektor UMN. Saya hanya manggut, sambil mengatakan bahwa ia memang pantas untuk itu. Kualitas intelektualitasnya sangat tidak diragukan.
Analisis Wacana
Membaca berbagai tulisan baik artikel maupun buku, cepat diketahui bahwa Daniel sangat menonjol dalam hal ‘discourse analysis’ (analisis wacana). Dalam menulis tentang pemikiran orang, pria kelahiran 22 Agustus 1945 ini, tidak seperti banyak penulis membahas biografi atau pemikiran cendekiawan. Ia meneropong melampaui batasan-batas yang ada.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







