Cepat, Lugas dan Berimbang

Mencintai dengan Cara Sederhana, Doa Damai untuk Kedamaian Indonesia

Doa Damai
Ribuan masyarakat Manggarai berkumpul di Natas Labar Motang Rua melantunkan doa damai Untuk kedamaian Indonesia

“Ini cara kami untuk memastikan bahwa setiap orang, setiap kelompok boleh bersuara. Bahwa dalam perbedaan kita tetaplah saudara. Bahwa dalam perbedaan yang ekstrim sekalipun kita tetap bagian dari rumah besar Indonesia Raya.” Ujar Hery Nabit.

Kita harus tetap ingat, kata Hery Nabit, bahwa Manggarai sampai kapanpun tetap menjadi bagian dari Indonesia.

Menurutnya, negara dan rakyat itu ibarat rumah dan penghuni. Pemerintah hadir sebagai pengurus yang memastikan bahwa rumah memberikan keteduhan kepada yang menghuni. Dan, memastikan bahwa penghuni mendapatkan manfaat mendiami rumah.

Kalaulah ada hal-hal yang belum maksimal dilakukan oleh para pengurus rumah, mari dibicarakan dengan baik.

Unjuk rasa, demonstrasi adalah hal yang sah menurut undang-undang, tetapi undang-undang yang sama juga memberikan rambu-rambu yang akan menjamin bahwa unjuk rasa, demonstrasi dilakukan dengan damai.

Kita mencintai Indonesia dengan cara kita masing-masing. Ada yang mencintai dengan kelebihannya, karena itu dia membayar pajak lebih besar. Ada yang mencintai dari kekurangan, dari kesederhanaan, karena itu kontribusinya adalah menjaga kedamaian.

Karenanya, saya mengajak seluruh komponen masyarakat Manggarai, meskipun esok hari atau pada hari-hari berikutnya akan ada satu dua organisasi yang melakukan unjuk rasa, mari kita jaga bersama supaya setiap unjuk rasa yang dilakukan terlaksana dengan cara-cara yang damai, menghindarkan diri dari anarkisme.

“Kita mencintai Indonesia, mencintai Manggarai dengan cara yang sederhana menjaga kedamaian.” Ujar Hery Nabit di hadapan ribuan masyarakat berbagai lapisan yang memadati Natas Labar dengan melantunkan sebuah puisi “Aku Ingin” karya Sapardi Joko Damono.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN