“Kami menyebutnya gua tiga lantai. Keindahannya luar biasa. Kami terpesona karena formasi di dalamnya terlihat seperti bangunan hotel alami,” ujarnya.
Perjalanan menuju Liang Kekep Poka sendiri merupakan pengalaman petualangan tersendiri. Pengunjung harus berjalan kaki sekitar 15 menit dari pusat desa, melewati jalan setapak di antara ladang dan hutan kecil. Sepanjang perjalanan, hamparan pemandangan hijau dan suara burung menjadi teman setia.
Pemerintah desa bersama masyarakat setempat berencana menjadikan Liang Kekep Poka sebagai destinasi wisata alam unggulan dengan konsep wisata minat khusus — fokus pada petualangan, edukasi, dan konservasi.
“Kami tidak ingin mengubah keaslian alam. Justru keunikan dan kealamian itulah yang menjadi daya tarik wisatawan,” tambah Kepala Desa.
Liang Kekep Poka kini menjadi simbol bahwa di balik sunyinya hutan Manggarai, selalu ada keindahan yang menunggu untuk ditemukan. Sebuah destinasi yang bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga mengajak setiap pengunjung untuk kembali menyatu dengan alam dan menghargai karya agung Sang Pencipta.
Sekretaris Desa Benteng Tubi Agustinus Ganggar menambahkan keunikan Liang Kekep membuatnya layak dikembangkan sebagai destinasi wisata minat khusus.
Pemerintah Desa Benteng Tubi bersama masyarakat berencana menata kawasan sekitar Liang Kekep agar bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata petualangan dan edukasi tanpa mengubah keaslian alam.
“Kami ingin wisatawan datang, tapi tetap menjaga kelestarian lingkungan. Liang Kekep Poka harus tetap alami,” tambah Kepala Desa.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











