Cepat, Lugas dan Berimbang
Berita  

Lejong (bertamu) Sebagai Cara Menciptakan Perubahan Cara Berpikir

Setelah itu, dalam melaksanakan tugas pendampingan, staf lapangan melakukan lejong ke kebun-kebun petani secara rutin untuk memantau aksi tindak lanjut, mengajak mereka berkunjung ke calon-calon pembeli sayur-sayuran di pasar (Cancar/Ruteng). Dan juga, lejong melalui Handphone mengirim infomasi tentang calon pembeli (pasar) yang berpotensi menjadi pembeli di Labuan Bajo dan Borong.

Salah satu hal yang diselidik lebih mendalam ketika berproses lejong itu, ungkap Richard, adalah berkaitan dengan literasi keuangan. Caranya yaitu membandingkan antara pemasukan dan pengeluaran rutin selama setahun serta berapa banyak uang dari hasil penjualan sayur-sayuran disimpan (saving) baik untuk kebutuhan darurat, asuransi maupun guna meningkatkan aset (produktif).

“Umumnya dari hasil analisis berkaitan dengan literasi keuangan tersebut, keluarga-keluarga petani mengalami defisit keuangan, hal ini telah berlangsung lama sehingga mereka menjadi keluarga yang rentan untuk terjebak pada lembaga atau perorangan yang memberi atau melayani jasa pinjaman uang dengan bunga yang cukup tinggi,” tuturnya.

Mereka tidak memiliki anggaran pendapatan dan belanjar tahunan keluarga (APBK) yang menjadi instrumen atau pedoman untuk mengevaluasi guna mengukur apakah keluarga-keluarga sudah aman secara finansial, apakah tanah mereka telah menjadi aset, apakah usaha tani mereka mengacu kepada APBK, apakah mereka telah menjadi anggota Koperasi Kredit atau nasabah bank? Lalu, pertanyaan reflekti yang harus dijawab peserta lejong adalan kelurgamu memangnya mau dibawa kemana, ini berkaitan dengan governasi (tatakelola) dan visi dari Rumah Tangga keluarga. Mereka harus punya visi supaya dalam menjalan usaha taninya didasari pasion yang kuat.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN