Di Manggarai Timur, GNI telah membantu puluhan desa membangun sistem perlindungan anak, menghidupkan partisipasi masyarakat, dan mendampingi keluarga rentan. Tanpa sorotan kamera. Tanpa protokol. Tanpa karpet merah.
Ironisnya, banyak program “pemberdayaan” yang lahir dari PowerPoint, bukan dari lapangan. Lahir dari target serapan anggaran, bukan dari pemahaman empati. Maka tak heran bila bantuan sering salah sasaran, pelatihan sekadar menggugurkan kewajiban, dan proyek hanya bertahan sampai laporan akhir.
Kemiskinan jadi komoditas. Ia dijual di proposal, ditampilkan dalam video “before-after,” dan dipakai sebagai pembenaran politis. Tapi dalam keseharian, ia tetap diam. Tetap menyayat.
Apa yang hilang? Mungkin jawabannya adalah kehadiran. Hadir bukan hanya fisik, tapi hadir secara batin. Duduk bersama orang miskin bukan sebagai “pembina” atau “narasumber,” tetapi sebagai sesama manusia yang belajar. Menyentuh luka tanpa memotret. Mendengar cerita tanpa mencatat demi laporan. Membantu tanpa pamrih program lanjutan.
Kita terlalu sibuk memotong pita, membuat hashtag, dan mengundang media. Tapi kita lupa: kemiskinan bukan konten. Ia bukan cerita inspiratif. Ia adalah ketidakadilan yang nyata.
Jadi, saat berikutnya Anda diundang dalam seminar kemiskinan yang diadakan di hotel berbintang, tanyakan:
Apakah gedung ini punya tangga untuk ibu pemulung?
Apakah yang kita bahas ini akan sampai ke telinga anak-anak di pelosok?
Atau, mungkinkah kita hanya sedang menata kata untuk menenangkan rasa bersalah?
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







