Dan lagi…
Tidak kah kita hidup pula dalam kurungan tembok tebal penuh prasangka, curiga, tafsir, dan segala pikir ini itu yang ‘aneh-aneh dan miring-miring?’ Karenanya, satu kisah batin nan berat mesti dilewati. Mari, sudahilah semua yang membebankan. Caranya? Sejak abad dahulu, warga beriman sudah pada yakin bahwa semuanya bakal terlewati dalam kerendahan hati. Kerendahan hati memperjumpakan kita.
Namun semudah itu kah?
Dunia romawi kuno dan yunani antik meludahi kerendahan hati. Pikiran Aristoteles jelas, “Itu satu kelemahan dan cacat diri. Rendah hati itu merendah penuh kerdil mental dan takut. Dapat diinjak-injak dan amatlah tak terhormat.” Kita masih berjuang perangi hati dan budi nan kelam untuk tiba pada keyakinan ‘untuk melihat dunia dan sesama dengan penuh kerendahan hati. Dan bahwa membentengi diri dalam tembok keangkuhan dan kesombongan diri justru merupakan cacat dan kelemahan terbesar.’
Tetapi, kita tak menyerah pada rasa putus asa. Sebab setiap anak negeri miliki potensi senyum penuh tulus. Ada aura hati penuh persahabatan. Setiap kita dicahayai oleh jiwa merdeka. Kita semua adalah anak negeri nan ‘istiqlal.’ Gelora kemerdekaan adalah hidup dan jiwa bersama.
Sri Paus Fransiskus, dalam waktu tak lama lagi ini akan disambut dalam ‘suasana Masjid Istiqlal.’ Jiwa bebas penuh merdeka tentu jadi kekuatan kita. Meretas dan melewati batas-batas pembeda yang mengasingkan. Sebab semuanya dalam Istiqlal itu bersaudara dalam kemanusiaan. Berikrar dalam citra kemanusiaan, yang berbangsa dan bertanah air Indonesia.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











