Cepat, Lugas dan Berimbang

Geotermal Poco Leok; Ketika Kemajuan Perlu Sikap Realistis

Lebih dari itu, transisi energi merupakan salah satu fokus utama kesepakatan Presidensi G20 Indonesia yang dilaksanakan di Bali pada 2022. Dunia internasional tampaknya sudah menuju perpisahan dengan energi berbahan fosil yang dinilai berdampak buruk pada lingkungan. Indonesia kemudian menindaklanjuti kesepakatan yang bernilai investasi tinggi tersebut dengan memaksimalkan proyek-proyek geotermal.

Sebagaimana diketahui Indonesia adalah negara dengan cadangan geotermal terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Bahkan, sebesar 40% cadangan panas bumi di dunia ada didalam bumi Indonesia.

Pada tahun 2023 kementerian ESDM mencatat potensi sumber energi yang terkandung dalam perut bumi Indonesia mencapai 23.965,5 megawatt (MW). Potensi tersebut baru dimanfaatkan sekitar 9,8 persen dengan kapasitas pembangkit listrik terpasang sebesar 2.342,63 MW. Ini artinya cadangan panas bumi yang terkandung dalam perut bumi kita masih sekitar 90% belum dimanfaatkan.

Kesepakatan dunia internasional terkait Energi Baru Terbarukan tentu saja bersumber dari kehendak bersama sebagian besar masyarakat dunia. Kita sebagai warga Indonesia tentu saja tidak boleh mengucilkan diri dari dunia luar. Toh, kita juga terikat otomatis sebagai warga dunia.

Atas dasar itulah pemanfaatan energi terbarukan dan ramah lingkungan seperti geotermal wajib dilakukan. Proyek geotermal Poco Leok tentu wajib dikerjakan.

Teringat dengan kata-kata Soekarno: barang siapa yang melawan zaman pasti akan terlindas zaman. Tuntutan masyarakat dan zaman terkait transisi energi, menuntun sekaligus menuntut kita untuk memanfaatkan energi-energi bersih yang sifatnya terbarukan; bukan yang terbatas. Zaman energi bersih tidak mungkin untuk kita lawan karena itu akan membuat kita bergerak di tempat ibarat pesawat yang putar-putar di landasan pacu saja. Pesawat itu harus kita terbangkan!  

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel