Ketiga, berpotensi menimbulkan turbulensi sosial. Pengurangan anggaran di sektor tertentu, terutama subsidi atau bantuan sosial, bisa memicu ketidakpuasan publik yang berdampak pada stabilitas politik. Efek jangka panjangnya bisa berimbas pada melemahnya legitimasi politik pemerintah.
Pemotongan anggaran, terutama di sektor yang dianggap vital oleh masyarakat, bisa menimbulkan protes sosial. Jika efisiensi anggaran mengarah pada kurangnya layanan publik, pemerintahan bisa dinilai gagal dalam memenuhi kebutuhan rakyat. Bahkan jika efisiensi juga mencakup pengurangan dana transfer ke daerah, hal itu tentu bisa memicu ketegangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Oleh karena itu, dampak berikutnya (keempat) adalah ketidakstabilan pemerintahan. Krisis politik yang muncul dari ketidakpuasan publik dan elite politik bisa mengancam keberlangsungan pemerintahan. Persepsi bahwa pemerintah gagal dalam mengelola ekonomi dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo.
Isu efisiensi anggaran bisa digunakan kelompok oposisi sebagai alat untuk bukan sekadar mengkritik, tetapi juga memperlemah pemerintahan. Alih-alih memberi manfaat efisiensi, yang terjadi justru defisiensi politik.
Langkah antisipatif
Defisiensi adalah suatu kondisi yang menunjukkan adanya kekurangan. Defisiensi politik berarti kekurangefektifan yang dialami suatu lembaga politik, dalam hal ini pemerintah. Untuk menghindari dampak negatif seperti tersebut di atas, mitigasi politik perlu dilakukan agar terhindar dari defisiensi politik akibat efisiensi anggaran.
Pertama, dengan komunikasi publik yang efektif. Pemerintah harus secara transparan menjelaskan alasan dan manfaat dari kebijakan efisiensi anggaran, bukan hanya kepada jajaran birokrasi pemerintah, yang terpenting adalah kepada semua pihak yang akan terdampak kebijakan ini.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







