(satu perenungan)
P. Kons Beo, SVD
Sudah lama kita tersekap dalam penjara soal yang itu-itu saja. Rasanya sulit dan bahkan tak mungkin beralih. Rentetan persoalan tetap berjalan dalam waktu. Tetap berhembus dalam ‘perayaan ulang tahun saat lilin HUT kita ditiup.’
Sama sekali tak berarti kita tak punya cukup waktu lagi untuk ‘duduk dan bicara bersama.’ Pun tak berarti bahwa kita tak tajam akal – cerdas otak untuk kupas tuntas segala rumit dan tali temali persoalan. Sama sekali tidak! Dunia sudah dipenuhi banyak ‘kaum pintar. Anti kedunguan.’
Di pusaran soal bersama yang tak pernah tuntas, si bijak punya kalimat simpel bahkan sepele: “Mari mulai dari diri sendiri.” Sederhana memang! Sebab, kata-kata indah kita dan harapan tegas kita selalu ditujukan pada ‘orang lain, dunia sana dan segala yang bukan saya.’
Kita berharap agar ‘kebun dan lahan mati milik tetangga sepantasnya hijau berseri dan produktif. Sementara halaman luas punya kita sendiri tetap terbengkelai. Sebab ia masih terus saja ‘dihiasi oleh pernak-pernik kata dan mimpi-mimpi demi hari esok.’
Si bijak itu tetap bertanya, “Kenapa kah selalu sulit bertarung mulai dari diri sendiri?” Kita jeli amati soal di luar diri. Dan selalu punya harapan indah yang mesti terjadi pada diri orang lain.
Masalah yang bertumpuk dan tercecer selalu datang dari orang luar dan pihak lain. Di bicara lepas, entah bersuara keras pun dalam bisik-bisik, segala masalah selalu lahir serta terdapat hanya dalam diri sesama atau pihak lain. Kita bukanlah pihak yang tersangkut atau menempel pada tali-temali kerumitan persoalan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel
Tinggalkan Balasan