Densus 88–P3A Manggarai Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak dari Kekerasan hingga Radikalisme

“Terorisme itu tidak muncul begitu saja. Awalnya dari sikap tidak mau menerima perbedaan atau intoleransi, lalu berkembang menjadi paham radikal, dan pada akhirnya bisa berujung pada tindakan teror. Karena itu, kita harus mencegahnya sejak dini, terutama pada anak-anak,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam sejumlah kasus, anak bisa terlibat dalam jaringan kelompok radikal, sementara perempuan sering menjadi korban dalam lingkaran tersebut.Ia juga menegaskan bahwa terorisme tidak lagi bisa dikaitkan dengan agama tertentu.

Pemaparan lebih teknis disampaikan oleh personel Satgaswil NTT Densus 88 AT Polri, Marianus P. Delfin. Ia mengungkapkan bahwa secara nasional terdapat sekitar 140 anak yang pernah terpapar kelompok radikal, sementara di NTT tercatat enam anak.

Menurutnya, pola perekrutan kini telah berubah. Jika sebelumnya banyak dipengaruhi lingkungan keluarga, saat ini media sosial menjadi pintu masuk utama.

“Dulu sebelum tahun 2022, sebagian besar anak terpapar paham radikal karena mengikuti orang tuanya yang sudah lebih dulu terlibat dalam jaringan tertentu. Namun setelah tahun 2022, pola itu berubah. Media sosial menjadi pintu masuk utama perekrutan anak,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa proses perekrutan dilakukan secara bertahap melalui ruang digital. Anak-anak sering didekati melalui game online seperti Free Fire dan Roblox, kemudian diarahkan ke grup WhatsApp atau Telegram untuk proses doktrinasi.

“Setelah itu mereka mulai didoktrin, bahkan diperkenalkan pada materi tentang perakitan bom dan penggunaan senjata api,” tegasnya.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel