Menurut Bupati Hery Nabit, pemerintah Kabupaten terus berupaya untuk menekan akan stunting melalui berbagai upaya konvergensi untuk pencegahan dan penanganan stunting.
Beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Manggarai, kata Hery Nabit, selain pemenuhan asupan melalui pemberian makanan tambahan, juga melalui penetapan orang asuh atau pendamping untuk keluarga stunting.
“Hal ini untuk memastikan apakah anak stunting mendapatkan asupan gizi yang cukup baik makanan yang disiapkan oleh keluarga maupun makanan yang diberikan melalui Pemerintah Desa atau Pemerintah Kabupaten.”
“Kita berupaya untuk mengubah metode “from farm to table” menjadi “from farm to table, from table to mouth”. Tugas mulia dari orang tua asuh dan tenaga pendamping keluarga sangat menentukan apakah anak-anak stunting kita mendapatkan asupan makanan bergizi yang sesuai atau tidak.
Selain itu, pemerintah Kabupaten Manggarai membangun kerja kolaborasi dengan berbagai sektor yaitu Yayasan Ayo Indonesia, Yayasan Plan Internasional Indonesia, Wahana Visi Indonesia, Weta Gerak, PT. Pupuk Indonesia dan yang terakhir Pemerintah
Kabupaten Manggarai membangun kerja sama dengan Keuskupan Ruteng, UNIKA St.Paulus Ruteng dan Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Manggarai.
Kerja sama dengan keuskupan dilaksanakan melalui upaya advokasi dan edukasi bagi pasangan yang akan menerima sakramen pernikahan, sosialisasi pencegahan dan penanganan stunting melalui mimbar gereja, katekese dan kursus persiapan pernikahan.
Kerja sama dengan UNIKA St. Paulus Ruteng dalam rangka mengkaji beberapa fenomena penemuan kasus stunting di Kabupaten Manggarai. Sehingga, tahun ini UNIKA St. Paulus Ruteng akan melaksanakan KKN Tematik dengan mengutus 1.200 mahasiswa dari berbagai program studi yang akan disebar pada 12 Kecamatan, 171 desa/kelurahan. Pelaksanaan KKN ini akan dilaksanakan selama 2 bulan, dan akan diterima di semua Kecamatan tanggal 18 Agustus 2025.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







