Cepat, Lugas dan Berimbang

Cara Penipu Bermodus Love Scamming Memperdaya Korban

Love Scamming
Tersangka penipuan love scamming, MR (tengah), ditangkap oleh Polda Banten pada 17 Juni 2025. Dok. Humas Polda Banten

Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan penipuan asmara digital memang biasanya bekerja dengan memanfaatkan celah kerentanan psikologis. Dalam kasus ini, pelaku tidak mengintimidasi, melainkan membangun suasana nyaman yang membuat korban merasa aman dan terhubung. Reza menyebut cara ini sebagai grooming, teknik manipulasi yang umum digunakan dalam berbagai jenis kejahatan relasional.

“Beda dengan ancaman yang membuat target ketakutan sehingga menjauh, grooming justru membuat calon korban bergerak mendekat karena merasa positif,” kata Reza menukil Tempo.

Secara psikologis, kata Reza, korban penipuan seperti ini kerap menunjukkan tingkat sugestibilitas tinggi, yakni kerentanan menerima sugesti dan pengaruh dari luar. Meski sugestibilitas tidak ditentukan semata oleh jenis kelamin, Reza menyebutkan, perempuan merupakan salah satu dari tiga kelompok individu yang rentan secara statistik.

Studi berjudul “Online Love Fraud and the Experiences of Indonesian Women: A Qualitative Study” yang dimuat dalam International Journal of Public Health Science edisi September 2023 memperkuat pernyataan Reza itu. Studi tersebut mencatat bahwa 60 persen korban love scamming di Indonesia adalah perempuan.

Targetnya pun nyaris seragam, perempuan di atas usia 35 tahun, berstatus janda atau cerai, yang punya penghasilan sendiri dan mencari pasangan lewat aplikasi atau media sosial.

“Mereka dianggap lebih mudah dijerat karena kesepian dan mandiri secara ekonomi,” ujar studi yang dilakukan oleh Susanti Niman, Tina Shinta Parulian, dan Timothy Rothhaar tersebut.

Namun, menurut Reza, faktor kepribadian, kebutuhan emosional, dan kepercayaan diri yang berlebih bisa memperlebar ruang sugesti itu. Dalam kasus yang ditangani oleh Polda Banten itu, dia melanjutkan, status korban sebagai staf media presiden justru bisa membuatnya merasa lebih mampu mengelola risiko. “Status dia sebagai staf media presiden mungkin juga membuat dia overconfident (terlalu percaya diri),” ujar Reza.

Situasi ini, kata Reza, bisa memicu hindsight bias atau bias retrospektif, yaitu keyakinan bahwa seseorang akan selalu mampu mendeteksi dan menangkal ancaman karena merasa cukup punya pengalaman atau pengetahuan.

Meski begitu, Reza menegaskan bahwa kesalahan tetap berada pada pelaku, bukan korban. Ia mendorong korban mendapatkan pendampingan psikologis, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi digital publik. “Saya kasihan pada nasib si korban,” kata Reza.

Psikolog klinis A. Kasandra Putranto menyebutkan pelaku love scamming memang tak sembarangan memilih target. Mereka menyasar individu dengan kerentanan emosional, seperti mereka yang kesepian, baru bercerai, atau sedang dalam masa berduka. Dalam kondisi seperti itu, tutur Kasandra, kebutuhan untuk terhubung secara emosional bisa dimanfaatkan pelaku guna membangun ikatan semu.

“Korban umumnya memiliki kebutuhan akan cinta dan ingin terhubung dengan seseorang sehingga rentan terhadap manipulasi saat mereka bertemu dengan seseorang yang tampaknya menawarkan koneksi itu,” ujar Kasandra saat dihubungi secara terpisah.

Kasandra menjelaskan, langkah awal pelaku biasanya dimulai dengan love bombing, yaitu menjejali korban dengan perhatian, pujian, dan sanjungan. Pelaku kemudian membentuk citra sebagai pasangan ideal, mencerminkan keinginan korban, sehingga korban kesulitan mengenali tanda bahaya.

Setelah rasa percaya tumbuh, dia melanjutkan, pelaku mulai memanipulasi emosi korban. Mereka menciptakan situasi darurat palsu untuk memunculkan rasa bersalah, lalu meminta bantuan finansial dengan alasan yang tampak mendesak. “Modus kebutuhan finansial sering digunakan untuk meminta bantuan mendesak, seperti tagihan medis, biaya perjalanan, atau investasi bisnis,” ucapnya.

Dalam beberapa kasus, ucap Kasandra, pelaku bahkan mendorong korban menjauh dari keluarga atau teman agar lebih tergantung secara emosional. Kondisi ini akhirnya membuat korban sulit berpikir jernih. Kasandra mencatat, selain kerugian finansial, banyak korban mengalami trauma psikologis, kehilangan kepercayaan, dan enggan melapor karena rasa malu.

Ia menekankan pentingnya edukasi publik soal modus penipuan asmara digital ini. “Masyarakat perlu didorong untuk skeptis terhadap hubungan daring, terutama yang berkembang terlalu cepat atau langsung melibatkan permintaan uang,” kata Kasandra.

Love scamming, menurut Kasandra, bisa menimpa siapa saja, dari gadis remaja, perempuan bersuami, janda, hingga laki-laki. Titik lemahnya bukan pada latar belakang sosial, melainkan pada kebutuhan emosional yang tidak dipenuhi. Sebab, kata Kasandra, pelaku akan sangat penuh perhatian serta memenuhi harapan korban dari sisi fisik, kualitas diri, dan perilaku.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel