Agama dan Spritualitas Berbicara
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, agama merupakan suatu institusi vital. Agama hadir dan memainkan peranan sebagai stabilisator dan dinamisator, mengatur segala realitas manusia yang sering retak. Benar juga kalau dikatakan bahwa agama termasuk lembaga tertua dalam masyarakat yang prihatin terhadap masalah-masalah permusuhan dan perdamaian.
Hal itu bisa dilihat, misalnya kegiatan peribadahan dan tempat-tempat ibadah berfungsi sebagai sentrum dan integrator; sebagai wadah Treuga Dei (Perdamaian Allah) bagi pihak-pihak yang bertentangan. Atau meminjam ucapan Karl Mangeim, agama berfungsi sebagai sinndeutung und sinnverdeutlichung des zusammenlebens (pemberi makna dan penjelasan atas hidup bermasyarakat). Atau sebagai grenzsituation (situasi batas) menurut Karl Jaspers.
Tentu, buat setiap penganutnya, agama sangat penting. Kendati zaman teknologi telah tumbuh menjadi suatu kratos (kekuatan) tersendiri, agama tetap menjadi prioritas. Bisa dipahami kalau Peter L Berger memaklumatkan bahwa agama merupakan suatu sacred canopy (langit suci) yang melindungi manusia dari situasi chaos, yaitu situasi tanpa arti, situasi anonim.
Spiritualitas berbicara dengan hati
Suatu kajian mendalam memperlihatkan agama memiliki multi dimensi dalam fungsinya. Hakikatnya, agama dapat dilihat sebagai bentuk pengungkapan rasa kepatuhan manusia pada yang transenden, yang absolut, dan imanen dalam berbagai bentuk simbol dan tradisi sesuai dengan konteks historis tertentu.
Satu sisi, agama juga tidak terlepas dari perspektif sosiologis kemasyarakatan. Bagi setiap penganutnya, agama dilihat sebagai ultimum remedium, semacam senjata pemungkas, yang bisa meredam segala macam konflik; atau boleh memberikan warna human terhadap modernisasi yang cendrung reduktif.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











