Beranilah Bersaksi Tentang Kebenaran

Bersaksi tentang kebenaran
Istimewah

PEKAN II PASKAH
Kamis, 28 April 2022
Bacaan: Kisah Para Rasul 5: 27-33; Yohanes 3: 31-36

Untuk hidup dan berkembang, kita perlu berani dan memiliki keberanian. Keberanian diperlukan karena ada banyak tantangan dan kesulitan, ada banyak halangan dan rintangan dalam perjalanan hidup kita. Bila kita takut dan tidak memiliki keberanian, kita tidak akan kuat untuk bertahan dan untuk bergerak maju dalam hidup.

Para rasul seperti Petrus dan Yohanes dapat menjadi rujukan bagi kita dalam hal keberanian. Mereka berkali-kali dilarang dan ditangkap karena mengajar tentang Yesus yang bangkit kepada orang banyak. Mereka juga keluar masuk penjara karena dianggap tidak mematuhi larangan untuk ‘mengajar dalam nama Yesus’. Namun ternyata mereka terus saja ‘memenuhi Yerusalem dengan pengajaran mereka. Malahan dengan tegas dan tegap, dengan terang dan jelas serta dengan gagah perkasa. Mereka berbicara dan menjawab Imam Besar di dalam pengadilan Agama Yahudi sebagai berikut:

“Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat. Supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Dan, kami adalah saksi dari segalanya itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia” (Kis 5: 29-32).

Kebangkitan Yesus adalah Kebenaran iman

Dalam bingkai pengalaman Yohanes dan Petrus ini, menjadi saksi adalah menjadi orang yang berkata dan berbicara apa adanya tentang kebenaran. Itu berarti berkata dan berbicara tentang apa yang benar-benar terjadi, tidak ada hal yang dikarang-karang atau direkayasa atau dipalsukan, tetapi semuanya seperti apa adanya, polos dan terbuka.

Kebenaran dalam arti ini tidak dapat ditutup atau didiamkan. Apabila ada tekanan atau paksaan dari luar, kebenaran itu akan tetap terus mendesak dan berbicara di dalam hati kita. Orang yang menutup atau mendiamkan kebenaran akan merasa gelisah dan akan terus hidup dalam kegelisahan sebelum kebenaran itu diungkapkan, dikatakan dan dibicarakan seperti apa adanya atau sebagaimana seharusnya.

Dalam pemahaman ini, peristiwa kebangkitan Yesus adalah suatu kebenaran iman yang tidak dapat diam dan tidak dapat didiamkan oleh siapa pun dan oleh apa pun. Yesus Kristus yang bangkit adalah “Firman” atau Sabda Allah (Yoh 1:1) tentang jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14: 6). Karena itu kebenaran tentang kebangkitan Yesus tidak dapat diam dan didiamkan, tetapi mesti berbicara dan dibicarakan. Ia harus diwartakan. Inilah sebabnya Rasul Yohanes dan Petrus tidak gentar dan tidak takut sedikit pun untuk berbicara dan bersaksi tentang kebenaran mengenai kebangkitan Kristus.

Seperti Yohanes dan Petrus, kita tidak boleh takut untuk berbicara dan bersaksi tentang kebenaran apa saja dalam hidup, terlebih lagi kebenaran tentang iman akan Kristus yang bangkit. Kebenaran itu memiliki kekuatan yang tetap. “Bibir yang mengatakan kebenaran tetap untuk selama-lamanya, tetapi lidah dusta hanya untuk sekejap mata” (Ams 12: 19). Kebenaran tidak akan hilang dan tidak dapat dihilangkan. Meskipun ada upaya dari siapa pun dan dengan cara apa pun untuk menghilangkan dan menghapus kebenaran. Namun kebenaran itu tidak akan hilang dan tidak akan dapat dihilangkan atau dihapus dari hidup manusia dan dari muka bumi ini.

Lebih daripada itu, apabila kita berbicara dan bersaksi tentang kebenaran, kita harus menyatu dengan sumber kebenaran itu sendiri, yakni Tuhan. Kristus yang bangkit adalah “Allah yang benar” (Yer 10: 10) dan “kebenaran-Nya tetap untuk selamanya” (2Kor 99: 9). Maka kalau kita menyatu dengan Tuhan di dalam Roh Kudus, Roh Tuhan sendiri, kita memiliki kekuatan dan keberanian yang tidak terkatakan untuk bersaksi dan berbicara tentang kebenaran dalam situasi dan kondisi apa saja yang kita hadapi.

Karena itu apabila kita tampil di depan publik untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran, kita harus benar-benar menyatukan diri dengan Tuhan di dalam batin. Melalui doa di dalam batin, kita harus meminta Roh Kudus untuk memberikan kepada kita terang dan jalan yang benar. Serta, sekaligus untuk meminta kekuatan dan keberanian. Sehingga kita tidak cemas dan gelisah, tidak gugup dan gemetar serta tidak takut dan panik berhadapan dengan serbuan pertanyaan, tekanan atau intimidasi yang diarahkan kepada kita. Dalam kesatuan spiritual yang intim dengan Tuhan melalui Roh Kudus, kita dapat berkata seperti Rasul Paulus: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4: 13).

Doaku dan berkat Tuhan
Mgr Hubertus Leteng.

error: Sorry Bro, Anda Terekam CCTV