Namun, penjelasan ini nampaknya tidak menyurutkan aksi mogok massal pelaku wisata.
“Soal urgensi konservasi untuk pulau Komodo dan Padar saya kira kita semua sepakat. Karena memang ini untuk kepentingan keberlanjutan hidup biawak purba varanus comodensus dan habitat aslinya di Komodo dan Padar. Hanya saja, tambahnya, pemicu mogok massal ini juga nampaknya karena ketidak percayaan pelaku wisata akan motif alasan kenaikan tarif. Apalagi dengan diberikan hak monopoli oleh Pemda NTT kepada BUMD Flobamora untuk menetapkan tarif dan mengelola TN Komodo.
“Saya kira untuk itu Pemda NTT dan perwakilan organisasi pelaku wisata perlu duduk bersama. Itu untuk mencari solusi demi menghentikan aksi-aksi demo di Labuan Bajo. Situasi Labuan Bajo dengan suguhan aksi-aksi demo merupakan suguhan yang buruk bagi wisatawan dan negatif campaign untuk Labuan Bajo – Flores.”
AHP menilai kalau demo mogok massal ini berlangsung terus, lama kelamaan wisatawan enggan dan tidak nyaman berkunjung ke Labuan Bajo.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







