Ruteng, infopertama.com – Perjalanan Gereja bukan sekadar soal program, tetapi tentang kesediaan untuk berjalan bersama dan mendengarkan. Semangat itu tampak dalam kegiatan “Lejong Pastoral” ke 49 Komunitas Basis Gerejawi (KBG) Paroki Ekaristi Kudus Ka Redong dalam rangka Tahun Sinode IV.
Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan yang hidup, tempat Gereja hadir, mendengarkan, dan bersama umat merumuskan arah pastoral yang kontekstual.
Kegiatan ini menjangkau 49 KBG dan berakhir di KBG Benteng Daud pada Senin, 30 Maret 2026. Sepanjang kunjungan, umat tidak hanya menerima penjelasan tentang sinodalitas, tetapi juga diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman, pergumulan, dan harapan mereka akan pelayanan Gereja yang lebih relevan.
Tim B Sinode menegaskan bahwa semangat sinodal mengajak umat berjalan bersama dalam pelayanan diakonia, pengudusan, pewartaan, dan persekutuan. Keterlibatan umat menjadi tanda Gereja yang hidup—Gereja yang bertumbuh dalam kebersamaan.
Sesi pertama dibawakan oleh Adam Musi yang menjelaskan metode pastoral 3M: melihat, menilai, dan memutuskan. Umat diajak membaca realitas secara jujur, merefleksikannya dalam terang iman, dan menentukan langkah konkret demi kebaikan bersama.
Ia juga menegaskan pentingnya partisipasi umat, termasuk dalam pembiayaan pastoral. Sumber penerimaan paroki berasal dari kolekte dan Gerakan Syukur Sehari (GESSHAR). Dalam terang iman, keduanya bukan beban, melainkan ungkapan syukur atas kebaikan Tuhan.
Adam Musi menambahkan bahwa seluruh umat perlu berkomitmen untuk meningkatkan penerimaan paroki, baik melalui kolekte maupun GESSHAR, agar program pastoral dapat berjalan secara berdampak dan berkelanjutan.
Sesi berikutnya disampaikan oleh Rikard, Seksi PSE, yang memaparkan situasi sosial, ekonomi, dan lingkungan umat di Keuskupan Ruteng.
Ia menyoroti meningkatnya kasus KDRT, konsumsi miras, perceraian, kemiskinan, keterbatasan lapangan kerja, serta persoalan kesehatan seperti HIV/AIDS. Pengeluaran sosial keluarga juga terus meningkat.
Rikard menegaskan bahwa persoalan tersebut erat kaitannya dengan tekanan ekonomi yang membuat banyak keluarga terperangkap dalam situasi sulit. Karena itu, penyadartahuan melalui edukasi—termasuk tentang HIV/AIDS—menjadi sangat penting.
Ia juga mendorong umat untuk melek keuangan: memprioritaskan kebutuhan, membiasakan menabung, dan menyesuaikan kewajiban sosial dengan kemampuan. Jika pengeluaran melebihi pendapatan, keluarga rentan jatuh miskin. Dalam kondisi terdesak, orang bisa mengambil jalan pintas, seperti meminjam pada lembaga dengan cicilan harian atau menjual tanah, sebagaimana mulai terlihat di Kota Ruteng.
Di bidang lingkungan, perubahan iklim berdampak langsung pada kehidupan umat, seperti berkurangnya debit air dan menurunnya produksi pertanian. Situasi ini menuntut kesadaran dan tindakan bersama.
Rikard juga menegaskan bahwa KBG bukan hanya tempat liturgi, tetapi ruang hidup untuk diakonia dan pemberdayaan. Karena itu, umat diajak berdialog dan merumuskan langkah konkret sesuai kebutuhan.
Sebagai tindak lanjut, PSE Paroki telah menjalankan berbagai program pemberdayaan sejak 2019, khususnya di wilayah Tuke. Ini merupakan wujud nyata semangat Sinode III yang transformatif: membawa altar ke pasar, masuk dalam konteks kehidupan umat.
Program tersebut meliputi pelatihan pertanian organik, pengembangan usaha, literasi keuangan, dan bantuan ternak melalui kerja sama dengan Konferensi Waligereja Indonesia. Umat juga didorong bergabung dalam Koperasi Kredit Florette untuk memperoleh akses permodalan dengan bunga rendah. Beberapa anggota telah merasakan manfaat nyata bagi ekonomi keluarga.
Pada sesi diskusi, Fabianus Dan menyuarakan pengalaman konkret umat. Ia menegaskan perlunya kehadiran Gereja yang lebih nyata dalam mendampingi umat, khususnya dalam menghadapi kesulitan ekonomi dan tekanan sosial.
Ia juga meminta Gereja lebih aktif menghimbau umat untuk menghindari minuman keras serta lebih bijaksana dalam kegiatan pengumpulan dana agar tidak membebani keluarga. Gereja diharapkan mengarahkan umat pada hidup yang sederhana, bijaksana, dan solider.
Sesi terakhir disampaikan oleh Yulin Mimut, anggota Tim Sinode IV Paroki. Ia mengajak orang tua mendorong anak-anak terlibat dalam Sekami dan OMK sebagai ruang pembinaan iman dan kepemimpinan. Ia juga menyoroti kurangnya dukungan sebagian orang tua, sekaligus mengapresiasi mereka yang telah mendukung anak-anaknya aktif di Gereja.
Yulin menegaskan bahwa anak-anak dan orang muda adalah Gereja masa kini sekaligus masa depan. Karena itu, keterlibatan mereka bukan hanya penting, tetapi menjadi bagian utama dalam keberlanjutan hidup Gereja.
Dalam semangat sinodal, program yang telah dirumuskan di tingkat KBG dan paroki diharapkan dijalankan bersama. Tanggung jawab pastoral bukan hanya milik Dewan Pastoral Paroki, tetapi seluruh umat.
Perjalanan “Lejong” ini menjadi tanda harapan: ketika Gereja berjalan bersama, mendengarkan, dan bertindak dalam kasih, karya pastoral menjadi lebih hidup dan relevan.
Sebagai penutup, umat diajak lebih bijaksana merawat lingkungan, khususnya dalam mengelola sampah plastik. Sampah tidak boleh dibakar karena berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan. Kesadaran bersama diperlukan untuk menjaga kelestarian alam sebagai rumah bersama.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel



