Sesi berikutnya disampaikan oleh Rikard, Seksi PSE, yang memaparkan situasi sosial, ekonomi, dan lingkungan umat di Keuskupan Ruteng.
Ia menyoroti meningkatnya kasus KDRT, konsumsi miras, perceraian, kemiskinan, keterbatasan lapangan kerja, serta persoalan kesehatan seperti HIV/AIDS. Pengeluaran sosial keluarga juga terus meningkat.
Rikard menegaskan bahwa persoalan tersebut erat kaitannya dengan tekanan ekonomi yang membuat banyak keluarga terperangkap dalam situasi sulit. Karena itu, penyadartahuan melalui edukasi—termasuk tentang HIV/AIDS—menjadi sangat penting.
Ia juga mendorong umat untuk melek keuangan: memprioritaskan kebutuhan, membiasakan menabung, dan menyesuaikan kewajiban sosial dengan kemampuan. Jika pengeluaran melebihi pendapatan, keluarga rentan jatuh miskin. Dalam kondisi terdesak, orang bisa mengambil jalan pintas, seperti meminjam pada lembaga dengan cicilan harian atau menjual tanah, sebagaimana mulai terlihat di Kota Ruteng.
Di bidang lingkungan, perubahan iklim berdampak langsung pada kehidupan umat, seperti berkurangnya debit air dan menurunnya produksi pertanian. Situasi ini menuntut kesadaran dan tindakan bersama.
Rikard juga menegaskan bahwa KBG bukan hanya tempat liturgi, tetapi ruang hidup untuk diakonia dan pemberdayaan. Karena itu, umat diajak berdialog dan merumuskan langkah konkret sesuai kebutuhan.
Sebagai tindak lanjut, PSE Paroki telah menjalankan berbagai program pemberdayaan sejak 2019, khususnya di wilayah Tuke. Ini merupakan wujud nyata semangat Sinode III yang transformatif: membawa altar ke pasar, masuk dalam konteks kehidupan umat.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







