Artinya, pelayanan kesehatan pascagempa tidak lagi sekadar menyembuhkan luka yang terlihat. Tenaga kesehatan juga harus membantu masyarakat menghadapi kecemasan, ketakutan dan trauma akibat gempa susulan yang masih terjadi.
Hingga 1 September 2026, tercatat 10.747 kali gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Kondisi ini membuat sebagian warga masih merasa tidak aman untuk kembali ke rumah maupun masuk ke dalam gedung fasilitas kesehatan.
Ketika Relawan Mulai Pulang
Namun, ada persoalan baru yang mulai muncul: keberlanjutan dukungan tenaga kesehatan.
Data HEOC mencatat 17 institusi relawan telah menyelesaikan masa tugas dan kembali ke daerah asal antara 22 hingga 30 Agustus 2026.
Di antara mereka terdapat Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, Dinas Kesehatan Bima, DoctorSHARE, FK Hang Tuah Surabaya, IDI Cabang Surabaya, PMI DKI dan PMI Pusat, PT PAMA Persada Nusantara, RS PKU Muhammadiyah Bima, RS PMI Bogor, RSUD Dr. Soetomo dan IDI Ortopedi Jawa Timur, RS H.L. Manambai Abdulkadir, RSUD Singasana Tabanan serta RSUD Wangaya Denpasar.
Kepulangan tersebut tentu merupakan bagian dari siklus penugasan relawan. Tetapi bagi sistem kesehatan yang masih dalam masa tanggap darurat, kekosongan yang ditinggalkan harus segera diisi.
Karena itu, HEOC merekomendasikan rotasi dan penambahan tenaga Emergency Medical Team (EMT) untuk menjaga kesinambungan pelayanan di posko-posko yang ditinggalkan relawan.
Kebutuhan tersebut terutama dirasakan pada pelayanan kesehatan jiwa dan psikososial serta promosi kesehatan, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Reo dan Beamese yang mencatat beban kasus cukup tinggi.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











